INDOPOLITIKA – Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi urat nadi pasokan minyak dan gas dunia, saat ini praktis ditutup. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) telah memperingatkan kapal‑kapal agar tidak melintas, dengan pesan radio menyatakan bahwa “tidak ada kapal yang diizinkan lewat.”

Akibatnya, banyak perusahaan pelayaran dan pemilik tanker besar menghentikan atau menunda pengiriman minyak, bahan bakar, dan gas melalui jalur ini.

Penutupan praktis Selat Hormuz ini menimbulkan dampak langsung terhadap harga energi dunia. Minyak mentah, yang setiap harinya mengalir melalui selat ini sekitar 20% dari total produksi global, mengalami lonjakan harga signifikan.

Analis energi memperkirakan bahwa jika penutupan berlanjut lebih dari beberapa minggu, harga minyak bisa melonjak hingga 30–50%, dan inflasi global di sektor energi serta transportasi akan ikut terdorong.

Asia menjadi kawasan yang paling rentan terhadap gangguan ini. Negara-negara seperti Tiongkok, India, Jepang, dan Korea Selatan sangat bergantung pada pasokan minyak dan gas dari Teluk Persia.

Indonesia, meski tidak menjadi pengimpor utama dari kawasan ini, tetap akan merasakan dampak tidak langsung melalui kenaikan harga BBM dan biaya logistik, yang pada akhirnya dapat memengaruhi daya beli masyarakat.

Selain tekanan ekonomi, penutupan selat juga meningkatkan risiko konflik regional. Armada militer internasional kemungkinan akan dikerahkan untuk menjaga kelancaran jalur perdagangan, sementara ketegangan antara Iran dan negara-negara yang bergantung pada pasokan energi melalui Selat Hormuz semakin memburuk.

Gangguan terhadap gas alam cair (LNG) dari Qatar juga dapat memicu krisis energi di beberapa negara pengimpor utama.

Dampak penutupan selat sangat bergantung pada durasinya. Jika hanya berlangsung satu minggu, kenaikan harga minyak moderat dan perdagangan masih bisa dialihkan melalui jalur alternatif.

Jika berlangsung satu bulan, gangguan pasokan energi semakin luas, inflasi meningkat, dan risiko intervensi militer bertambah.

Sedangkan jika penutupan berlangsung tiga bulan atau lebih, krisis energi global, inflasi tinggi, potensi resesi, dan risiko konflik besar menjadi ancaman nyata.

Selat Hormuz bukan sekadar jalur perdagangan, melainkan penentu stabilitas energi dan ekonomi dunia. Penutupan praktis jalur ini telah menunjukkan betapa rapuhnya ketergantungan global terhadap satu titik strategis.

Pemantauan ketat, diplomasi internasional, dan strategi cadangan energi menjadi kunci untuk mengurangi risiko krisis yang lebih luas. (Red)

Cek berita dan artikel menarik lainnya di Google News Indopolitika.com