Internasional

Seniman AS Dipenjara 27 Tahun karena Salah Tuduh

Valentino Dixon menghirup udara bebas usai dipenjara atas kejahatan yang tidak dilakukannya (Foto: ABC).

New York: Seorang seniman menghabiskan 27 tahun di penjara akibat kasus pembunuhan yang tidak dilakukannya. Kini Valentino Dixon dibebaskan dari penjara.
 
Dixon yang dipenjara sejak 1991, terus mempertahankan bahwa dirinya tidak bersalah atas tuduhan membunuh Torriano Jackson di New York. Saat tewas terbunuh, Jackson baru berusia 17 tahun.
 
Pada Rabu 19 September, Dixon akhirnya menghirup udara bebas usai seorang pria mengaku melakukan pembunuhan itu. Lamarr Scott, mengaku membunuh Jackson. Pengakuan Scott diutarakannya kepada media lokal, dua hari setelah kematian korban.
 
Usai dinyatakan bebas, situasi emosional diperlihatkan saat Dixon memeluk ibunya. Tampak anak perempuannya serta kerabat lainnya menunggu Dixon di luar penjara.
 
"Rasanya lega (bisa bebas)," ujar Dixon, seperti dikutip Sky News, Rabu 20 September 2018.
 
Putri Dixon, Valentina, yang masih bayi ketika dia dijebloskan ke penjara, membawa bayinya yang berusia 14 bulan, Ava dan Levi, untuk menemuinya di luar pengadilan.
 
"Kami pasti akan pergi berbelanja dan pergi menjelajahi kehidupan," katanya. "Aku tidak sabar untuk memberinya ponsel dan mengajari dia (Dixon) cara Snapchat," tutur Valentina.
 
Alasan bebasnya Dixon dipaparkan oleh Jaksa Penuntut wilayah Erie, John Flynn. Menurutnya, bersama Lamar Scott, Dixon bergerak menuju lokasi pembunuhannya. Saat itu diketahui tengah terjadi perkelahian yang melibatkan korban.
 
Kepada pengadilan, Scott mengaku dirinya merebut senjata api dari bawah kursi dan melepaskan tembakan.
 
"Dixon tidak bersalah atas penembakan dan pembunuhan. Tetapi Dixon membawa senjata untuk berkelahi. Itu adalah senjata milik Dixon," sebut Flynn.
 
Sementara di balik jeruji besi, Dixon menghidupkan kembali kegemaran masa kecilnya untuk menggambar. Dia bahkan sering menghabiskan 10 jam sehari menciptakan lanskap pensil warna yang cerah sebuah lapangan golf.
 
Kegemarannya itu yang membuat majalah Golf Digest menulis artikel tentang dirinya. Artikel tersebut dan publikasi lain telah menarik perhatian publik terhadap kasus ini.
 
Bahkan sebuah film dokumenter juga diproduksi oleh mahasiswa Georgetown University sebagai bagian dari kursus reformasi penjara.

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close