Setelah Dipaksa Menikah di Malaysia, Bocah Thailand Dipulangkan

  • Whatsapp
Ilustrasi kekerasan anak. (Foto: Medcom.id)

Bangkok: Seorang bocah perempuan berusia 11 tahun asal Thailand, yang dipasak menikah dengan pria Malaysia berusia 41 tahun, telah dipulangkan dan dirawat pemerintah.

Anak kecil itu, yang sedang menerima konseling kesehatan mental, kembali ke rumahnya di Thailand dari Malaysia pada Rabu kemarin. Ia diketahui dipaksa menikah dengan seorang pedagang yang berusia 30 tahun lebih tua pada Juni.

Baca Juga:

Diyakini sempat menjadi istri ketiga pedagang itu, bocah yang tidak disebutkan namanya tersebut dirawat di bawah pengawasan pemerintah Thailand.

Menurut media lokal, bocah perempuan itu lahir di Thailand dari orang tua yang bekerja di perkebunan karet Malaysia. Diketahui dia tidak fasih berbicara bahasa Thailand.

Kabar pernikahan antara bocah itu dan pedagang berusia 41 tahun, Che Abdul Karim Che Abdul Hamid, menjadi viral dan mengundang kembali seruan mengakhiri pernikahan anak di kedua negara.

Gubernur salah satu provinsi di Thailand, Suraporn Prommool, mengatakan bocah itu kembali ke Thailand setelah mendapat "tekanan besar dari media Malaysia."

Dia menyebutkan kepada awak media bahwa pernikahan itu tidak diakui di bawah hukum sipil Thailand.

"Kami tidak bisa melakukan apa-apa (untuk membatalkan pernikahan) karena mereka menikah di bawah hukum agama," kata dia, seperti disitir dari Sky News, Senin 13 Agustus 2018.

Pernikahan Anak

Che Abdul, yang telah didenda atas perbuatannya, bisa menghadapi vonis enam bulan penjara jika terbukti tidak mendapat izin pernikahan di Malaysia.

Dia berkilah kepada kantor berita Malaysia Bernama bahwa pernikahannya sah dan disetujui orang tua bicah tersebut.

Dia mengaku hanya akan memresmikan pernikahan di Malaysia ketika anak perempuan itu menginjak usia 16 tahun. Ia mengklaim bocah yang dinikahinya itu masih tinggal bersama orang tuanya.

Berdasarkan beragam data, sekitar 16.000 anak perempuan di bawah usia 15 tahun di Malaysia sudah menikah.

Peneliti senior Human Rights Watch (HRW), Heather Barr, menilai angka sesungguhnya bisa "jauh lebih tinggi."

Berita terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *