Setiap Orang Berpotensi Turut Bantu Pendanaan Teroris, Waspadalah!

  • Whatsapp
Ilustrasi Teroris

INDOPOLITIKA.COM- Hati-hati setiap orang ternyata berpotensi terlibat atau berpartisipasi dalam kasus tindak pidana pendanaan terorisme (TPPT). Waspadalah..waspadalah.

Kisi-kiai ini diungkapkan Koordinator Penelitian Penilaian Risiko Nasional PPATK, Patrick Irawan. Patrick mengungkapkan ada sejumlah modus yang digunakan oleh pelaku TPPT dalam mengumpulkan pendanaan, salah satunya lewat donasi.

Baca Juga:

Patrick menjelaskan, biasanya pelaku TPPT membuka aksi donasi berkedok kemanusiaan untuk mendapatkan pendanaan. Contohnya donasi untuk bencana alam. Targetnya biasanya masyarakat di kota-kota besar seperti Jakarta. Lokasi itu dianggap strategis untuk mengumpulkan sumber pendanaan untuk pelaku teror.

“Jakarta merupakan kota yang padat. Masyarakatnya less awareness. Ketika ada bencana alam, masyarakat Jakarta mudah tergerak untuk dimintai bantuan,” kata Patrick dalam workshop di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta.

Patrick mengatakan, kurangnya kesadaran dari masyarakat bisa membuat niat baik yang diberikan justru malah merugikan negara. Hal ini terjadi ketika masyarakat kurang peduli ke mana dana yang kita berikan itu disalurkan.

“Seharusnya dana yang kita salurkan ke tempat yang terpercaya. Jangan membuat kita membahayakan negara kita sendiri. Jangan kita memberikan bantuan, yang kita sendiri nggak tahu bantuan itu akan dikelola untuk apa,” tuturnya.

Di tempat yang sama Kepala PPATK, Kiagus Ahmad Badaruddin menyebut saat ini pola dan sumber pendanaan tindak terorisme di Indonesia dibiayai oleh diri sendiri atau self funding.

“Jadi karena sendiri, ini lebih sulit diatasi,” kata Badar.

Dia menjelaskan dana pribadi yang digunakan berasal dari hasil usaha skala kecil karena teror yang dilakukan juga dalam skala kecil.

“Seperti servis handphone, jual pulsa. Karena yang banyak dilakukan di lapangan itu juga enggak besar kan dananya, ada bom panci misalnya,” ujar dia.

Ia menyebut PPATK pernah membongkar sumber pendanaan yang melibatkan sebuah bisnis berskala besar. Namun, dia merahasiakan kasus dan nama usaha yang terindikasi melakukan pendanaan terorisme tersebut.

“Tapi biasanya belum tentu dia ikut terlibat operasional. Hanya pendanaan saja,” ujar Badar.

Terkait modus pencucian uang para pelaku terorisme, kata Badar, umumnya mereka selalu menggunakan identitas orang lain saat akan melakukan penyimpanan atau pengiriman uang.

Oleh karena itu, melalui pembaruan National Risk Assessment (NRA) tindak pidana pencucian uang dan tindak pidana pendanaan terorisme diharapkan bisa ditangani lebih optimal.[sgh]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *