Shinta Kamdani: Sektor UMKM dan Koperasi Membutuhkan UU Cipta Kerja

  • Whatsapp

Pelaku usaha nasional secara umum memiliki pandangan yang sama dengan temuan survei SMRC. In-line dengan apa yang terjadi, dan masukan yang sudah kita sampaikan.

Kondisi ekonomi di masa covid 19 ini lebih parah dan lebih menekan dari 1998. Unprecedented. Pelaku usaha sudah mulai merasakan dari pertengahan Maret 2020. Semakin dalam di April, kemudian Mei. Sehingga kami yakin, kwartal kedua akan negatif.

Berita Lainnya

Kita lihat di penjualan retail, selama April-Mei, negatifnya bisa sampai minus 22,9 persen. Dalam 10 tahun tidak pernah terjadi seperti ini.

Indonesia akan mengalami negative growth di kwartal kedua 2020. Kita akan lihat kwartal ketiga seperti apa. Kalau negatif lagi, ya kita jelas masuk ke krisis ekonomi.

Kami juga melihat recovery ekonomi kita akan berlangsung relatif lambat, bila iklim investasi dan stimulus ekonomi dalam keadaan status quo. Lambatnya realisasi program pemerintah, akan menghambat recovery.

Temuan sentimen positif pasar paska new normal, tentu saja encouraging. Namun kita melihat tingkat kepercayaan pasar domestik, sangat lambat. Malah masih terlihat tidak stabil, ragu-ragu, dan berbanding tipis dengan sentimen pesimis.

Artinya, sentimen positif yang terekam hingga Minggu ketiga Juni 2020, seperti terekam dalam survei SMRC, belum memberikan kontribusi pada kegiatan ekonomi di sektor riil.

Pola Konsumsi Minimalis

Yang menarik juga, persepsi ekonomi rumah tangga masih didominasi oleh penurunan pendapatan. Jadi mengindikasikan bahwa, hingga minggu ketiga bulan Juni 2020, masyarakat masih akan mempertahankan pola konsumsi minimalis. Jadi tingkat konsumsi masyarakat masih esensial, jangka pendek.

Mengingat populasi yang masih bekerja didominasi mereka yang berpendapat harian, temuan persepsi masyarakat mengindisikan sampai saat ini stimulus pemerintah di sisi konsumsi belum terealisasi. Belum bisa mendorong kegiatan ekonomi yang lebih tinggi.

Temuan terkait persepsi ekonomi setahun ke depan yang juga masih pesimis, mengindikasikan perilaku pasar yang menahan konsumsi masih akan berlangsung lebih lama. Sehingga sampai akhir tahun tidak akan muncul dorongan konsumsi yang lebih kuat untuk menopang pertumbuhan ekonomi nasional sehingga kita bisa keluar dari zona negatif ini. Ini sangat mengkhawatirkan dari segi berapa lamanya krisis ini.

Terkait proporsi sektor UKM yang mengaku sulit atau sangat memperoleh modal usaha, ini menunjukkan bahwa program stimulus kredit dan relaksasi pinjaman untuk usaha belum memberi pengaruh positif untuk mendukung resilience (daya tahan) sektor UMKM.

Terkait kondisi kerja, saya lihat sebagai hal yang wajar. Bahwa working from home (WFH) tidak bisa diharapkan memiliki porsi yang tinggi. Kita lihat begitu ada relaksasi, begitu ada transisi PSBB, orang langsung bekerja keluar rumah. Ini juga terjadi karena secara nasional, industri kita masih didominasi oleh sektor agriculture: pertanian, perikanan, perkebunan. Kemudian, oleh industri manufaktur atau pabrik yang tidak memungkinkan mereka bekerja dari rumah.

Terkait adaptasi teknologi, harus diakui saat ini masih belum banyak yang memiliki teknologi yang mendukung remote working dengan skala besar. Ini yang menjadi masalah.

Pengalaman saya sendiri, tidak mudah untuk melakukan kerja remote atau virtual untuk semua pegawai secara sehari-hari. Jadi yang kita lakukan, menggilir jadwal masuk.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *