INDOPOLITIKA – Kasus pembunuh seorang ibu oleh putri kandungnya SAS yang masih berusia 12 tahun di Medan, beberapa waktu lalu menggemparkan publik.

Kasus siswi SD bunuh ibu kandung tersebut kini ditangani pihak kepolisian. Setelah kasus pembunuhannya menggegerkan publik, sosok SAS diungkap tetangga sekitar.

Dikutip dari Tribun Medan, warga sekitar TKP mengaku mengenal baik SAS. Katanya, siswi SD bunuh ibu kandung  itu adalah anak yang baik dan pendiam namun ramah kepada orang. SAS juga dikenal kerap menorehkan prestasi di sekolah.

“Ia (SAS) adalah anak yang paling ramah, baik saat bertemu dengan orang. Tak hanya itu, ia juga berprestasi dalam mengikuti lomba di sekolahnya,” ungkap warga yang tak disebutkan namanya dalam wawancara.

Lantaran sosok baik SAS itulah warga tidak menyangka siswi kelas 6 SD itu tega membunuh ibunya.

Korban Tak Pernah Bergaul

Sementara itu terkait dengan sosok korban dan keluarganya, tetangga menyebut Faizah tak pernah bergaul dengan warga. Keluarga korban sekaligus terduga pelaku adalah sosok yang terdiam.

Mereka jarang keluar rumah untuk berinteraksi dengan tetangga. Tapi jika bertemu dengan warga, keluarga korban termasuk terduga pelaku selalu ramah dan menyapa.

“Ketika berpapasan barulah mereka menegur kami. Korban memang tidak pernah bergaul dengan tetangga dan tidak pernah keluar,” ujar tetangga.

Lantaran korban yang jarang keluar rumah itulah tetangga tidak mengetahui polemik di keluarganya.

Warga terkejut saat mendengar ada kasus pembunuhan di rumah mewah di Jalan Dwikora tersebut.

Dugaan motif pembunuhan

Perihal dugaan motif pembunuhan, tetangga mengurai kesaksian mengejutkan. Yakni diduga pelaku tega membunuh ibu kandungnya karena sakit hati.

“Mungkin karena emaknya itu cerewet jadi mungkin sakit hati. Padahal sudah mau tamat sekolah pelaku ini,” kata tetangga tersebut.

Sementara itu, Kepala Lingkungan V Kelurahan Tanjung Rejo, Kecamatan Medan Sunggal, Tono, mengatakan peristiwa tragis itu terjadi pada Rabu (10/12).

Dari pengakuan suami korban, katanya, sehari sebelumnya korban sempat memarahi putri pertamanya. Kejadian itu diduga membuat SAS tersinggung.

“Dari keterangan ayahnya, korban ini sempat memarahi anak perempuan pertamanya. Jadi mungkin adiknya tersinggung. Suaminya terus menangis, tidak bisa bicara banyak,” kata Tono.

Dia menambahkan Tim Inafis Polrestabes Medan juga telah melakukan olah TKP. Jenazah korban dievakuasi ke RS Bhayangkara Medan pada pukul 08.15 WIB untuk keperluan autopsi.

“Saat saya masuk ke dalam rumah mereka, korban sudah bersimbah darah. Jadi saya nggak tahu berapa luka tikaman. Untuk si anaknya ini juga sudah dibawa ke kantor polisi,” tuntasnya. (Red)

Cek berita dan artikel menarik lainnya di Google News Indopolitika.com