Soal Aliran Duit Gubernur Papua ke Kasino Rp 560 M, Kuasa Hukum: Dia Orang Kaya, Punya Sumber Emas

Gubernur Papua Lukas Enembe/net

INDOPOLITIKA.COM – Kuasa hukum Gubernur Papua Lukas Enembe, Aloysius Renwarin buka suara terkait aliran uang klienya mengalir ke kasino yang mencapai Rp 560 miliar seperti disampaikan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) sebelumnya.

Menurut loysius, Lukas Enembe adalah pejabat kaya yang memang memiliki sumber cuan. Salah satunya adalah emas. Selain itu, kekayaan Lukas Enembe juga didapat selama menjadi pejabat publik selama puluhan tahun.

“Dia kan orang kaya. Dia punya sumber daya alam, dia punya emas, kamu mau curiga?” kata Aloysius Renwarin dilansir dari detikNews, Selasa (20/9/2022).

“Dia sudah 20 tahun menjabat di negerinya yang sumber emas paling banyak di kabupatennya, di tempat kelahirannya, di negerinya. Jadi mau apa lagi buat cari-cari kesalahan orang?” tanya Aloysius.

Tidak hanya itu, Aloysius heran soal jumlah sangkaan suap yang semula Rp 1 miliar kini meningkat drastis menjadi ratusan miliar.

“Kan dipanggil kemarin kan Rp 1 miliar, ya toh. Mau diperiksa kan Rp 1 miliar. Kok sekarang langsung dikembangkan? Memangnya penyidikan kayak bagaimana? Jadi jangan bilang ada miliar-miliar lain,” jelasnya.

Sebelumnya, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menemukan transaksi setoran tunai kasino judi menyangkut Gubernur Papua Lukas Enembe. Hal ini diketahui dari hasil analisis transaksi keuangan terkait Lukas Enembe yang kini menjadi tersangka KPK.

“Sejak 2017 sampai hari ini, PPATK sudah menyampaikan hasil analisis, 12 hasil analisis kepada KPK. Salah satu hasil analisis itu adalah terkait dengan transaksi setoran tunai yang bersangkutan di kasino judi senilai 55 juta dolar, atau Rp 560 miliar itu setoran tunai dalam periode tertentu,” ujar Ketua PPATK Ivan, sebelumnya. [Red]

Bagikan:

Ikuti berita menarik Indopolitika.com di Google News


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *