Soal Vonis Kasus First Travel, Bos KY Bela Hakim MA: Hakimnya Tak Salah, Cuma…

  • Whatsapp
Ketua Komisi Yudisial, Jaja Ahmad Jayus.

INDOPOLITIKA.COM- Ketua Komisi Yudisial (KY), Jaja Ahmad Jayus, bela putusan hakim kasasi Mahkamah Agung (MA) yang menetapkan aset First Travel disita oleh negara.

“Itu murni pertimbangan hukum. Hakimnya normatif, ya, tidak salah,” ujar Jaja di sebuah acara diskusi di Bogor, Jawa Barat, Jumat (22/11/2019).

Muat Lebih

Jaja menjelaskan, di dalam Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) disebutkan apabila pidana TPPU terbukti, aset yang menjadi barang bukti harus dikembalikan atau disita oleh negara. Oleh karena itu, menurut Jaja, keputusan yang diambil oleh hakim secara hukum tidak dapat disalahkan.

Meski demikian, lanjut Jaja, seharusnya hakim berani melakukan terobosan dengan melihat fakta-fakta yang ada. Bahwa aset yang disita bukanlah uang negara, melainkan uang jemaah First Travel sehingga sudah semestinya dikembalikan kepada mereka.

Namun, hal tersebut tidak bisa serta-merta dilakukan karena kasus yang awalnya perdata, kemudian berubah menjadi pidana. karena ada tindak penipuan dan penggelapan dalam kasus itu.

“Kalau kasus ini perdata murni asalnya dari hubungan perjanjian pemberangkatan umrah. Jadi asalnya uang jemaah, maka mestinya uang itu dikembalikan kepada rakyat,” ucap Jaja.

Seperti diketahui, majelis hakim kasasi MA memutuskan barang bukti kasus penipuan First Travel harus dikembalikan ke kas negara. Putusan yang dituangkan dalam surat Nomor 3096 K/Pid.Sus/2018 itu ditetapkan oleh Hakim Andi Samsan Nganro (hakim ketua), Hakim Eddy Army dan Margono (hakim anggota).

Total barang sitaan pada kasus tersebut sebanyak 820 item, yang 529 di antaranya merupakan aset bernilai ekonomis, termasuk uang senilai Rp 1,537 miliar.

Putusan ini membuat jemaah First Travel resah karena dana yang mereka setorkan tidak bisa dikembalikan.

First Travel didirikan oleh Andika Surachman beserta istrinya, Anniesa Desvitasari Hasibuan. Keduanya menjadi terdakwa dalam kasus ini.

Lewat paket perjalanan umrah promo yang dipatok dengan harga Rp 14,3 juta, First Travel berhasil menipu kurang lebih 63.000 orang, dengan total kerugian mencapai Rp 905,33 miliar.

Dalam kasus ini Direktur Utama First Travel Andika Surachman dihukum penjara selama 20 tahun penjara. Istri Andika, Anniesa, dijatuhi hukuman selama 18 tahun penjara. Keduanya diharuskan membayar dengan masing-masing Rp 10 miliar.

Sementara itu, Direktur Keuangan sekaligus Komisaris First Travel Siti Nuraida Hasibuan dijatuhi hukuman penjara 15 tahun dan denda Rp 5 miliar.[sgh]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *