Solar Subsidi Langka, Harga Barang Diprediksi Bakal Semakin Mahal

Solar subsidi langka/Net

INDOPOLITIKA.COM – Pengamat menilai kelangkaan solar subsidi akan mengerek harga sejumlah barang. Pasalnya, jalur distribusi rentan terganggu.

Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan mengatakan kelangkaan solar akan memberikan efek domino bagi suatu barang. Hal ini akan berimbas langsung kepada masyarakat.

“Dampaknya kelangkaan biosolar pastinya terganggu jalur distribusi (barang), dengan demikian potensi naiknya barang ada karena kelangkaan barang tersebut. Selain itu, terjadinya kerusakan barang yang gampang busuk karena menunggu. Ini memberikan kenaikan beban produksi,” kata Mamit kepada CNNIndonesia.com, Selasa (29/3).

Ia mengatakan beban produksi pelaku usaha rentan naik karena harus membeli solar non subsidi. Ujung-ujungnya, pengusaha akan menaikkan harga kepada konsumen untuk menutup biaya produksi tersebut.

“Kelangkaan karena memang kuota solar subsidi saat ini dikurangi jika dibandingkan 2021 yang lalu. Saat ini kuota hanya 15,1 juta kilo liter dibandingkan 2021 sebanyak 15,8 juta kilo liter. Hal ini berdampak terhadap penurunan kuota yang sampai ke setiap daerah,” ujar Mamit.

Selain itu, lanjut Mamit, disparitas harga yang cukup tinggi antara solar subsidi dan non subsidi membuat banyak yang beralih menggunakan solar subsidi. Beberapa contohnya, seperti truk pertambangan, perkebunan hingga industri yang mengantre untuk membeli solar subsidi.

Oleh karena itu, BPH Migas perlu memberikan keleluasaan kepada Pertamina untuk mengatur jalur distribusi kuota.

“Karena BPH Migas saat ini mengatur sampai ke SPBU-SPBU. Jadi, daerah-daerah yang sudah merah bisa dikirimkan pasokan dari daerah yang masih hijau,” jelas Mamit.

Selain keleluasaan untuk mengatur distribusi, Mamit mengatakan PT Pertamina (Persero) juga perlu menerapkan sanksi yang kuat bagi pengguna solar subsidi yang bukan semestinya.

Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Mahendra Rianto mengatakan kelangkaan solar sudah terjadi sejak dua minggu terakhir.

“Sudah dua minggu, nggak tahu kenapa tiba-tiba solar menghilang. Artinya, supply ke SPBU berkurang, kami jadi ngantre (untuk beli solar),” kata Mahendra.

Ia mengatakan antrean pembelian solar bisa memakan waktu yang lama di Sumatera. Hal ini membuat distribusi ke daerah Sumatera terlambat.

Ia juga menyebut keterlambatan distribusi juga akan berakibat pada kelangkaan barang, sehingga harganya bisa meningkat.

Sebelumnya, solar dikabarkan langka di sejumlah daerah di Sumatera seperti Bengkulu, Riau, hingga Sumatera Selatan.

Kepala daerah bahkan harus ‘turun gunung’ demi menyelesaikan masalah kelangkaan solar. Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah misalnya, mengatakan karena kelangkaan itu pihaknya mengajukan penambahan kuota subsidi BBM solar kepada BPH Migas.

Permintaan diajukan lantaran stok solar di Bengkulu tidak stabil, sehingga menimbulkan antrean yang panjang.


Ikuti berita menarik Indopolitika.com di Google News

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.