INDOPOLITIKA Banjir bandang yang meluluhlantakkan sejumlah wilayah di Sumatera mengakibatkan kerusakan parah, memutus jalur antarwilayah dan membuat kebutuhan dasar warga semakin sulit terpenuhi.

Ribuan penduduk kini harus bertahan dalam kondisi serbaterbatas, menggantungkan harapan pada bantuan darurat yang terus mengalir dari berbagai daerah.

Seruan untuk membantu pun menggema di seluruh penjuru negeri: Sumatera membutuhkan uluran tangan.

Hingga 1 Desember 2025, jumlah korban terus meningkat. Ratusan orang dinyatakan meninggal, ratusan lainnya masih dalam proses pencarian, sementara puluhan ribu warga terpaksa meninggalkan rumah mereka.

Kesedihan menyelimuti Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat, meninggalkan luka mendalam bagi para penyintas dan keluarga yang kehilangan tempat tinggal.

Dalam situasi penuh keterdesakan ini, kebutuhan akan makanan, pakaian layak, tenda, obat-obatan, hingga akses logistik menjadi sangat mendesak.

Aktivis muda Ferry Irwandi, pendiri Malaka Project, Foto: Kapan Lagi

Penggalangan Dana

Di tengah upaya banyak pihak untuk memetakan skala kerusakan, masyarakat justru menunjukkan solidaritas luar biasa.

Salah satu aksi yang paling mencuri perhatian datang dari aktivis muda Ferry Irwandi, pendiri Malaka Project—sebuah gerakan yang mendorong pemuda untuk berpikir kritis dan peka terhadap isu kemanusiaan.

Melalui kampanye digital dan siaran langsungnya, Ferry sukses menggerakkan ribuan orang untuk ikut membantu. Hanya dalam tiga jam sejak penggalangan dana dibuka, donasi publik telah menembus satu miliar rupiah.

Dalam pembaruan yang ia bagikan melalui Instagram, Ferry mengungkapkan rasa syukur dan haru atas besarnya dukungan masyarakat.

Tak berhenti di situ, ia juga mengumumkan rencana melanjutkan aksi tersebut melalui siaran langsung maraton hingga keesokan harinya.

“See you! Nanti malam kita bakal live maraton semalaman sampai jam 11 siang besok. Kita nggak punya target—sebanyak-banyaknya aja, karena semakin banyak, semakin banyak juga yang terbantu. Kita bakal berusaha secepat mungkin supaya semuanya tersalurkan,” ujarnya dikutip, Selasa (2/12/25).

Gerakan yang dipimpin Ferry Irwandi dan ribuan pendukungnya membuktikan kuatnya semangat saling menjaga di tengah bencana. Saat musibah datang tanpa aba-aba, masyarakat bergerak lebih cepat daripada birokrasi.

Mereka saling merangkul, saling membantu, memastikan saudara-saudara mereka di Sumatera tidak menghadapi kesulitan ini sendirian.

Di tengah ketidakpastian, gelombang solidaritas ini menjadi cahaya harapan—bahwa selama kepedulian masih hidup, harapan pun tetap ada. (Nul)

Cek berita dan artikel menarik lainnya di Google News Indopolitika.com