Stop Wacana Pilkada Dipilih DPRD, Saatnya Gunakan Teknologi E Voting

  • Whatsapp
Pemkab Boyolali menggelar simulai pemilihan elektronik (e voting) untuk pemilihan kepala desa. Dengan teknolgi e voting biaya pemilu menjadi lebih hemat, cepat dan akurat. (Foto: Pemkab Boyolali)

INDOPOLITIKA.COM – Wacana mengembalikan kepala daerah dipilih oleh DPRD adalah kemunduran kita berdemokrasi. Kekurangan dan kelemahan dalam pelaksanaan pilkada langsung seharusnya tidak ujung-ujung harus mengganti sistem menjadi tidak langsung. Akan lebih menarik kalau ide yang muncul adalah mencari solusi dari sejumlah kelemahan pilkada langsung.

Kelemahan yang seringkali terdengar adalah mahalnya biaya bagi para calon dan juga membebani keuangan negara. Ongkos demokrasi dan politik yang mahal inilah yang akhirnya mendorong para kepala daerah melakukan korupsi. Ini juga yang menjadi alasan sejumlah pihak mewacanakan kepala daerah cukup dipilih DPRD.

Berita Lainnya

Apa saja komponen yang membuat pilkada mahal?

Ada beberapa faktor yang membuat hajatan demokrasi ini berbiaya tinggi. Di antaranya, biaya penyelenggaraan pemilu seperti logistik pemilu mulai dari pembuatan kotak suara, cetak surat suara, dan sosialisasi. Semua itu harus ditanggung oleh APBD atau APBN. Ujungnya akan membebani keuangan daerah.

Seharusnya kita mewacanakan mencari solusi atas mahalnya penyelenggaraan pemilu tersebut. Apa yang disampaikan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, ide menggunakan digital voting sangat tepat. Pemungutan suara secara elektronik ( e voting) bisa menjadi solusi penghematan anggaran pemerintah. Dengan e voting tidak ada lagi kertas surat suara yang ukurannya sebesar 1 halaman koran. Tidak ada lagi paku untuk mencoblos. Bantalan  saat mencoblos atau sekedar tali pengikat paku.

Dengan e voting juga dipercaya pelaksanaan dan penghitungan suara menjadi lebih cepat. Kasus meninggalnya para petugas PPS pada pemilu 2019, dikarenakan lamanya waktu penghitungan suara. Mereka kelalahan melakukan penghitungan manual dari pagi hingga pagi hari lagi.

Berbagai negara di dunia sudah menggunakan pemilu e voting ini. Amerika Serikat mungkin negara yang  paling awal menggunakan teknologi ini. Disusul sejumlah negara di Eropa. Yang belakangan sudah menggunakan e voting adalah India dan Brazil. Dua negara ini berhasil menyelenggarakan pemilu dengan teknologi atau alat yang mereka kembangkan sendiri.

Bagaimana dengan Indonesia? Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPPT) sebenarnya tengah mengembangkan teknologi e voting ini. BPPPT bahkan sudah menyelenggarakan e voting untuk pemilihan kepala desa di salah satu desa yang jauh dari perkotaan di Sumatera.

Hasilnya pemilihan kepala desa itu berhasil dengan baik. Partisipasi warga desa cukup tinggi. Bahkan, warga yang berusia tua pun mengaku sangat mudah mengikuti pemilu dengan sistem komputer tersebut. Pemilihan kepala desa melalui e voting ini bisa dilihat di kanal youtube. Termasuk simulasi atau cara detil mencoblos dengan e voting ini.

Selanjutnya, pemerintah tinggal menghitung berapa biaya pemilu menggunakan e voting. Berapa persen budget negara yang bisa dihemat. Jika sudah menemukan angkanya dan ternyata sangat efisien tinggal dieksekusi menjadi program prioritas.

Setelah itu, kita mulai mempersiapkan penerapatan teknologi e voting ini di level pilkada kabupaten /kota atau provinsi. Pemerintah dan stakeholder lainnya tinggal mendorong teknologi ini supaya lebih sempurna, aplikatif dan yang paling penting aman dari serangan peretas. Keamanan ini menjadi sangat penting, sebagai bagian dari proses demokrasi yang jujur, bisa dipercaya oleh seluruh peserta pilkada.

Dari pada kembali ke masa lalu, sebaiknya kita terus mendorong BPPPT agar menyempurnakan teknologinya, dan mempercepat proses penerapannya di sejumlah daerah. Kesiapan di daerah adalah mempersiapkan insfrastrukturnya. Mulai dari komputer, jaringan listrik dan alat-alat lain yang dibutuhkan, seperti smart card, card reader dan printer.

Kita harus percaya dengan teknologi sesuatu yang tadinya mustahil bisa menjadi kenyataan dengan teknologi. Sesuatu yang tidak mungkin, dengan teknologi bisa terjadi. Ya sudah saatnya kita membiasakan diri mencari solusi dengan teknologi, bukan dengan insting atau hanya bisa melihat ke belakang, bukan ke depan.

 

 

 

 

 

 

Berita terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *