Strategi Pemulihan Ekonomi Pasca Pandemi Covid-19 di Indonesia

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Hampir dua tahun, masyarakat dunia termasuk Indonesia hidup dalam kondisi sulit akibat virus Pandemi Covid-19. Pandemi secara nyata telah menghantam seluruh aspek kehidupan masyarakat, terutama pada sendi-sendi ekonomi.

Bukan hanya berdampak bagi kesehatan dan keselamatan, pandemi Covid-19 juga berpengaruh pada perekonomian Tanah Air. Pada tahun 2020 lalu, Menteri Keuangan RI menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mengalami proyeksi 2,3%. Dalam situasi terburuk, angka tersebut bahkan bisa merosot hingga 0,4%.

Berita Lainnya

Opini publik juga menyebut bahwa pandemi Covid-19 memang menekan banyak sektor perekonomian dan perdagangan. Alhasil, daya beli, konsumsi, dan investasi masyarakat akan menurun. Hal itu terjadi bukan hanya dalam skala rumah tangga saja, melainkan juga skala besar, seperti pemerintahan.

Lantas, apa saja dampak virus Corona pada berbagai sektor perekonomian Indonesia? Berikut informasi selengkapnya.

UMKM

Dampak virus Corona yang pertama sangat dirasakan para pengusaha UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah). Menurut BBC Indonesia, hal ini disampaikan sendiri oleh Ikhsan Ingatubun selaku ketua asosiasi UMKM Indonesia.

Adanya PPKM dan anjuran physical distancing membuat masyarakat tidak melakukan aktivitas seperti biasa. Bahkan banyak berita negatif yang menggiring opini publik, sehingga masyarakat takut untuk keluar rumah walaupun hanya sesaat.

Karena hal inilah, UMKM merasa kesulitan dalam membiayai berbagai keperluan yang ada, seperti biaya operasional, honor dan gaji pekerja, dan biaya non operasional lainnya. Bila para pekerja tidak dapat menghasilkan uang, maka pulang ke kampung biasanya diambil sebagai jalan keluar terakhir. Mogoknya usaha UMKM juga membuat banyak pengusaha gulung tikar.

Pariwisata

Selain UMKM, sektor perekonomian yang juga merasakan dampak nyata dari virus Corona adalah sektor pariwisata. Anjuran physical distancing tentu saja membuat masyarakat merasa takut untuk travelling atau jalan-jalan. Jangankan travelling, keluar rumah untuk membuang sampah saja bisa membuat masyarakat merasa parno.

Maka dari itu, virus Corona membawa dampak besar bagi agen perjalanan, transportasi, hotel, restoran, hingga pemandu wisata. Bukan hanya turis lokal, para pekerja di sektor ini juga kehilangan para turis mancanegara.

Pekerja juga memiliki kemungkinan besar untuk dirumahkan karena merosotnya industri pariwisata dengan pola yang serupa dengan lesunya UMKM. Alhasil, mereka tidak dapat menghidupi keluarga, sehingga terpaksa mencari cara untuk bekerja dari rumah agar tetap bertahan hidup.

Manufaktur

Seharusnya, menjelang Idul Fitri, permintaan masyarakat akan manufaktur semakin tinggi. Namun, karena virus Corona menyerang, permintaan masyarakat akan manufaktur justru semakin melandai.

Berdasarkan data dari Katadata, virus Corona memaksa perusahaan manufaktur untuk memperkecil atau menurunkan jumlah produksinya. Sejumlah karyawan juga diminta libur secara bergantian, sehingga pendapatannya dikurangi setengah. Bahkan, ada perusahaan yang terpaksa harus memecat sejumlah karyawannya dan melakukan perhitungan pesangon.

Bukan tanpa alasan, hal ini dikarenakan proses pengolahan berkurang, sehingga impor bahan baku juga menurun. Maka dari itu, perusahaan tidak memerlukan terlalu banyak tenaga kerja seperti sedia kala. Selain itu, hasil manufaktur juga mengalami kemerosotan lantaran permintaan dari luar negeri semakin sedikit.

Cara Pemerintah Menanggulangi Ekonomi Akibat Pandemi

Melihat hal tersebut, tentu saja pemerintah tidak diam saja. Sejumlah kebijakan dikeluarkan pemerintah agar perekonomian Tanah Air bisa kembali seperti sedia kala. Berikut beberapa upaya pemerintah dalam memperbaiki perekonomian akibat pandemi.

Membentuk Komite Penanganan Covid dan Pemulihan Ekonomi Nasional

Upaya pemerintah yang pertama adalah dengan membentuk Komite Penanganan Covid dan Pemulihan Ekonomi Nasional pada tahun 2020 lalu. Komite ini dipimpin oleh Airlangga Hartarto dengan Erick Thohir sebagai Ketua Pelaksana.

Tujuan dari dibentuknya komite ini adalah untuk memastikan penanganan kesehatan dan perekonomian Indonesia berjalan sinergi. Selain itu, komite ini juga didapuk untuk menjaga pertumbuhan ekonomi agar kembali seperti sedia kala. Menurut opini publik pun, komite ini sudah menjalankan tugasnya dengan baik.

Memberi Bantuan Kredit Berbunga Rendah

Selanjutnya, pemerintah memberikan bantuan kredit dengan bunga yang rendah. Pemerintah juga menyiapkan banyak program supaya UMKM kembali bergeliat, salah satunya adalah subsidi bunga kredit dan kebijakan restrukturisasi.

Menempatkan Dana di Perbankan

Bukan hanya itu, pemerintah juga melakukan penempatan dana di perbankan. Hal ini dilakukan pada tahun 2020 lalu untuk memutar roda perekonomian. Kala itu, pemerintah meletakkan Rp11,5 triliun di Bank Pembangunan Daerah dan Rp30 triliun di Himpunan Bank Milik Negara.

Menambah Dana Bansos

Bantuan sosial juga menjadi salah satu upaya masyarakat dalam memperbaiki perekonomian dan mensejahterakan masyarakat. Pada tahun 2021 ini, pemerintah memutuskan untuk menaikkan 7 dana bansos yang meliputi:

Kartu sembako, masing-masing keluarga mendapat Rp400.000,
Tambahan bantuan beras 10 kg/keluarga, diberikan kepada penerima Bantuan Sosial Tunai (BST) dan pemegang Kartu Sembako
Tambahan penerima BST sebanyak 5,9 juta KPM, Diskon tarif listrik sampai bulan Desember 2021 Tambahan dana kartu pra kerja, sehingga semakin banyak orang yang bisa mendapatkannya, Bantuan Sosial Tunai untuk 40 juta orang sebesar Rp300.000/bulan, Subsidi kuota internet hingga bulan Desember 2021

Dengan sejumlah langkah tersebut, Diharapkan perekonomian Tanah Air segera membaik. Jadi, masyarakat tidak perlu khawatir akan asumsi negatif terkait pertumbuhan ekonomi Indonesia.

 

Artikel oleh: Siti Murniasih

Berita terkait


INDOPOLITIKA TV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *