Internasional

Studi: 2017 Tahun Paling Mematikan bagi Aktivis Lingkungan

Kawasan hutan di La Pampa, Peru. (Foto: AFP/ERNESTO BENAVIDES)

London: Setidaknya 207 aktivis lingkungan di seluruh dunia meninggal dunia pada 2017, menjadikannya tahun paling mematikan dalam sejarah. Data dirilis organisasi Global Witness dalam sebuah laporan terbaru, Selasa 24 Juli 2018

Laporan berjudul 'At What Cost?,' menunjukkan bahwa meningkatnya pembunuhan aktivis dikaitkan dengan peningkatan permintaan produk-produk tertentu, seperti minyak sawit dan kopi. Global Witness menyebut banyak serangan dilancarkan terhadap orang-orang yang menolak menyerahkan tanah mereka untuk menumbuhkan produk-produk tersebut. 

Permintaan produk di industri lain, seperti pertambangan, juga memicu pembunuhan terhadap pemimpin adat, aktivis komunitas dan lingkungan yang mencoba melindungi tanah mereka.

"Aktivis lokal dibunuh karena pemerintah dan dunia bisnis lebih memilih keuntungan cepat ketimbang nyawa manusia," kata Ben Leather, juru kampanye senior di Global Witness. 

"Banyak produk yang muncul dari pertumpahan darah ini ada di rak-rak supermarket kita. Namun karena ada sekelompok orang yang berani menentang pejabat korup, industri yang merusak, dan penghancuran lingkungan, mereka secara brutal dibungkam. Cukup, ini sudah cukup," seru dia, seperti disitir dari UPI, Rabu 25 Juli 2018.

Amerika Latin menyumbang sekitar 60 persen dari total pembunuhan aktivis lingkungan tahun lalu. Negara paling mematikan di dunia untuk para aktivis itu adalah Brasil, di mana 57 orang tewas pada 2017.

Angka pembunuhan aktivis menunjukkan peningkatan drastis di Meksiko dan Peru. Pembunuhan akvitis di Meksiko meningkat dari 3 menjadi 15, dan di Peru dari angka 2 ke 8.

Di Nikaragua, negara dengan populasi 6 juta orang, terjadi empat pembunuhan aktivis linkungan.

John Knox, pelapor khusus PBB untuk hak asasi manusia dan lingkungan, mengatakan kepada kantor berita Al Jazeera bahwa populasi penduduk dan tingkat korupsi di Amerika Latin menjadikannya tempat berbahaya bagi aktivis lingkungan.

"Masih banyak masyarakat tradisional yang bergantung pada sumber daya alam di hutan atau peraira. Mereka ini kemudian terpinggirkan," katanya. 

"Ketika konflik terjadi antara pihak yang menginginkan keuntungan dari sumber daya alam dengan orang-orang tradisional, maka berpotensi memicu aksi kekerasan dan pembunuhan," lanjut dia.

Filipina adalah negara paling mematikan di Asia dalam hal pembunuhan aktivis lingkungan, dan kedua paling mematikan di dunia dengan 48 kasus.

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close