Survei

Survei IndEX Sebut Elektabilitas PDIP Turun

 

Indopolitika.com, JAKARTA – Tidak kurang dua bulan lagi menjelang hari H Pemilu 2019, elektabilitas sejumlah parpol mengalami pergerakan. Ada yang turun, ada naik, dan ada relatif stabil.

Hasil survei Indonesia Elections and Strategic (indEX) Research menyatakan, ada beberapa mengalami penurunan elektabilitas. Salah satunya PDIP. Parpol utama pengusung pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin itu saat ini elektabilitasnya tinggal 22,9 persen. Angka itu merupakan hasil survei indEX pada Desember 2018 lalu. Sementara periode November elektabilitas PDIP sebesar 25,7 persen.

“Penurunan elektabilitas PDIP diperkirakan karena migrasi pemilih muslim ke partai-partai nasionalis lainnya,” ungkap Direktur Eksekutif indEX Research Vivin Sri Wahyuni dalam siaran pers di Jakarta, pada Jumat (22/2).

Vivin menyebut, faktor paling kuat yang menandai fenomena penurunan elektabilitas karena bergabungnya mantan gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Publik masih sangat resisten dengan kemunculan Ahok dalam kancah politik nasional.

“Memori kasus penistaan agama pada Pilkada DKI terus terjaga, terlebih momentum reuni Alumni 212 yang tak pernah surut dukungan luas masyarakat,” imbuh Vivin.

Di sisi lain, elektabilitas lainnya seperti Partai Gerindra, Golkar, dan Demokrat yang cenderung stabil. Sedangkan NasDem, PSI, dan Perindo mengalami peningkatan elektabilitas. “Elektabilitas Gerindra masih berada pada angka 14,8 persen, Golkar 10,5 persen, dan Demokrat 4,7 persen,” papar Vivin.

Sementara itu NasDem sedikit mengalami kenaikan menjadi 4,3 persen, mendekati posisi Demokrat sebagai juru kunci lima besar. Demikian pula dengan Perindo yang naik elektabilitasnya menjadi 3,4 persen. Kenaikan paling signifikan terjadi pada Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

“Melejit ke angka 4,1 persen, PSI kini mengamankan posisi untuk dapat lolos menembus parliamentary threshold,” kata Vivin. Lompatan elektabilitas PSI cukup menarik, mengingat keseriusan kader-kadernya dalam membangun awareness kepada publik, lanjut Vivin.

“Cara PSI berkampanye dengan meluncurkan video pendek Grace Natalie menimbulkan perbincangan publik,” jelas Vivin.

Publik tampaknya merindukan politik yang riang dan gembira, alih-alih adu kebohongan dan kebencian seperti marak di media sosial. “Video PSI tersebar luas di berbagai platform media sosial termasuk grup-grup Whatsapp,” tutur Vivin.

Untuk diketahui, Survei indEX Research dilakukan pada 11-15 Februari 2019, dengan jumlah responden 1.200 orang. Metode survei adalah multistage random sampling dengan margin of error ±2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

(JPC)

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close