Internasional

Tangis Haru Akhiri Reuni Perdana Keluarga Dua Korea

Reuni perdana dua keluar Korea yang dipenuhi haru (Foto: AFP).

Seoul: Dua putrinya dari Korea Utara, keduanya berusia 70-an, meratap di luar bus. Ibu mereka, Han Shin-ja, 99 tahun, mengetuk jendela dari dalam dengan putus asa. Sang ibu menggerakkan bibirnya untuk berkata 'jangan menangis' dan 'sampai berjumpa lagi".
 
Ketika bus itu berangkat ke Korsel, pada Rabu, kedua putri Han mengejar kendaraan yang mulai bergerak sebelum dihentikan oleh seorang pejabat Korut. Keberangkatan yang memilukan, kemungkinan menjadi kali terakhir mereka melihat satu sama lain setelah berpisah selama beberapa dekade.
 
Keluarga Han di antara ratusan warga Korea tua yang sambil menangis mengucapkan selamat tinggal terakhir mereka di akhir reuni perdana di antara kerabat yang terpisahkan oleh Perang Korea 1950-53.
 
Sekitar 200 warga Korsel pulang ke rumah sesudah tiga hari bertemu kerabat Korut mereka di resor Gunung Diamond di Korut. 337 warga Korsel lainnya akan berpartisipasi dalam reuni putaran kedua dari Jumat hingga Ahad.
 
Han menasihati dua anak perempuannya yang tinggal di Korut untuk makan banyak "chap-ssal," atau ketan, untuk kesehatan. Dia beri tahu mereka bahwa dia akan selalu berdoa demi kebahagiaan mereka dan juga untuk masa depan cucu-cucu Korut yang tidak pernah dia lihat.
 
Beberapa kerabat bertukar nomor telepon dan alamat rumah mereka, meskipun Korea sejak akhir perang telah melarang warga biasa mengunjungi sanak keluarga di sisi lain perbatasan atau menghubungi mereka tanpa izin.
 
Shin Jae-cheon, pria 92 tahun dari kota Gimpo, Korsel, tidak jauh dari perbatasan, menyesalkan bahwa saudarinya yang menetap di Korut berusia 70 tahun tinggal kurang dari satu jam perjalanan jauhnya selama bertahun-tahun.
 
"Butuh waktu 40 menit bagi saya untuk mengemudi ke sana," kata Shin, seperti disitat dari LA Times, Jumat 24 Agustus 2018. Ia berkata kepada saudara perempuannya, Sin Kum Sun, yang tinggal di kota perbatasan Korut, Kaesong.
 
Setelah penyelenggara mengumumkan bahwa reuni secara resmi berakhir, Han dan putrinya merasa pilu. Mereka menangis, saling berpelukan, dan menolak meninggalkan meja makan siang mereka. Dua pejabat Korut dengan sopan memisahkan Han dari salah satu putrinya, Kim Kyong Yong yang berusia 71 tahun, yang terus berpegangan pada salah satu lengan Han.
 
Setelah warga Korsel naik bus, para pekerja membawa tangga sehingga kedua putri Han dapat meletakkan tangan mereka di jendela bus, sementara Han melakukan hal yang sama di bagian dalam kaca.
 
Setelah menyeka air mata dengan saputangan, Kim mendongak ke arah adiknya, tersenyum dan menciptakan bentuk hati dengan kedua jarinya. Kakaknya, Kim Sun Ok, membuat gerakan yang sama di luar bus.
 
Hampir 20.000 orang telah berpartisipasi dalam 20 putaran reuni pertemuan yang diadakan antara kedua negara sejak tahun 2000. Tidak ada yang memiliki kesempatan kedua untuk melihat keluarga mereka.
 
Reuni terbaru dihelat setelah jeda tiga tahun di mana Korut melakukan tiga uji coba nuklir dan beberapa peluncuran rudal yang menunjukkan kemampuan potensial untuk menyerang daratan Amerika Serikat. Analis mengatakan Korut masih sibuk bekerja sebelum rudal itu disempurnakan. Pemimpin Korut Kim Jong Un sudah menggeser arah diplomasi pada 2018, bertemu Presiden Korsel, Moon Jae-in dua kali dan mengadakan pertemuan puncak dengan Presiden AS Donald Trump.
 
Kendati Seoul sejak lama mendorong reuni lebih lanjut, para analis mengatakan Korut enggan sebab khawatir peningkatan frekuensi pertemuan mereka akan melonggarkan kontrol otoriternya dan melepaskan nilai tawar yang diimpikan.

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close