TB Ace : Didikan Santri Mengental Ngalir Dalam Kehidupan Saya

  • Whatsapp
Politisi Partai Golkar TB Ace Hasan Syadzily

INDOPOLITIKA.COM- Tubagus Hasan Syadzily yang akrab dipanggil Ace adalah seorang politisi Partai Golkar yang berhasil masuk dalam kursi jajaran anggota DPR untuk periode 2019-2024, mendatang.

Dalam ulasan Tokoh kali ini, Indopolitika akan mengulas secara detail kehidupan pribadi Ketua DPP Partai Golkar ini.

Baca Juga:

Abah Gede Sudah Prediksi Ace Bakal Jadi Pembesar

Di Pesantren Annizomiyyah, Kampung Jaha, Desa Sukamaju, Kecamatan Labuan, Kabupten Pandeglang tempat dimana Ace dilahirkan.

Hari itu, kondisinya berbeda dari hari biasanya. Hiruk Pikuk penghuni pesantren tidak seperti biasanya. Tampak beberapa santri hilir mudik keluar-masuk ndalem kiai.

Sang kiai pesantren K.H. TB Rafe’i Ali, terlihat mondar-mandir di ruang tamu. Raut cemas menggurat di wajahnya. Istrinya, Siti Sutihat, dalam sebuah kamar di rumah itu sedang mengerang menahan sakit, tanda didalam perutnya ada bayi yang tidak sabar ingin melihat dunia. Seorang emak paraji menemani di sampingnya. Intruksi demi intruksi ia keluarkan. Sesekali ia mendorong dan menekan perut Sutihat. Tak sepi mulut Sutihat terus bertasbih dan bertakbir, menarik napas dan menekan.

Akhirnya, saat pagi beranjak siang, Suara erangan Sutihat Berhenti. Berganti tangis bayi. Tangis pertama dari bayi laki- laki yang lahir pada Minggu Pahing, 19 September 1976. Kemudian Bayi tersebut diberi nama  Ace Hasan Syadzily. Sebuah nama istimewa khusus diberikan  oleh Abah Gede, Kepada Cucu baru nya. Abah Gede jauh sebelumnya sudah memprediksi Ace bakal menjadi orang besar.

Abah Gede, panggilan karib K.H Tubagus Ali Akbar, seorang ulama terkemuka dari Lebak Banten, ayah Rafe’i Ali. Ia murid K.H. Syam’un, dan menjadi bagian dari pergerakan ulama aktivis di Banten melawan kolonial Belanda. Dalam jiwanya mengalir darah ningrat Pangeran Surya (Sultan Ageng Tirtayasa), Sultan Banten ke-6.

Ace Hasan Syadzily sendiri lahir sebagai anak kelima dari enam bersaudara. Anak Pertama, Encep Badruzzaman, kedua, Neng Dara Affiah, ketiga, Ade Faizatul Muthmainah (meninggal di usia 6 tahun), keempat, Nong Darol Mahmada dan si bungsu Agus Khotibul Umam.

Dibesarkan di Lingkungan Pesantren

Ace Hasan Syaddzily, sedari belia sudah diperkenalkan oleh para leluhurnya didikan santri. Baik dari garis ayah maupun garis ibu, sama-sama dari keluarga santri.

Ayahnya, K.H Tubagus A. Rafe’i Ali adalah ulama pejuang. Putra pasangan K.H Tubagus Ali Akbar (Abah Gede) dan Hj. Ratu Siti Marhamah. Bergaris keturunan para ulama dan sultan Banten. Ia keturunan kedelapan dari Sultan Agung Tirtayasa Banten, dan keturunan ketiga belas dari Syarif Hidayatullah/ Sunan Gunung Djati Cirebon.

Sedangkan dari garis ibu, juga kental dengan darah santrinya. Ibu Ace, Sutihat adalah cucu Syekh Yusuf Samaun, pendiri sebuah pesantren tertua di kampung Jaha, Desa Sukamaju, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten. Pesantren ini sudah berdiri megah sejak tahun 1930-an dan dihuni kurang lebih 200 santri.

Namun sayangnya. Selepas Syekh Yusuf Samaun Wafat kejayaan pesantren ini menurun. Tidak ada aktifitas di pesantren. Satu persatu santri pergi meninggalkan pesantren, yang tersisa hanya kobong  (kamar santri) yang berserakan. Pesantren kala itu diteruskan dan dikelola oleh putri Syekh Yusuf Samaun, Hj. Siti Masyitoh, dan menantunya K.H. Asnawi Sodiq.

Melihat kondisi pesantren demikian, kemudian pada tahun 1963, Kiai Rafe’i Ali, ayahnya TB Ace Hasan Syadzily melanjutkan mengelola pesantren peninggalan mertuanya, Syekh Yusuf Samaun. Kemudian Kiai Rafe’i memberi nama pesantren tersebut dengan nama “Pesantren Annizhomiyyah” nama ini merujuk pada nama salah satu madrasah di Bagdhdad, Nizhamiyah (didirikan oleh Wazir Nizam Al-Mulk).

Dibawah pengasuhan Rafe’i, pesantren ini berkembang cukup pesat. Selain mengajarkan kitab kuning (fiqih , Nawu-sharaf), pesantren ini juga mendirikan madrasah, sekolah yang memadukan unsur agama dan umum. Dari mulai TK, madrasah ibtidaiyah, madrasah tsanawiyah dan madrasah aliah. Semuanya dibawah naungan Yayasan Syekh Yusuf Samaun, yayasan yang disahkan /berdiri pada 1989.

Di lingkungan pesantren Annizhomiyyah inilah, Ace Hasan Syadzily mengecap jejak-jejak masa kecilnya. Kitab Nahwu sharaf, dan kitab-kitab fiqih, tasawuf (kitab kuning) sudah menjadi pelajaran dan bacaan sehari-hari. Terutama nahwu dan syaraf, sudah hafal diluar kepala. Ayah dan ibu nya adalah guru awal kehidupan baginya. Maka darah santri mengalir deras dalam dirinya.

Abah dan Umi Guru Awal Kehidupan

Ace kecil, oleh ayahnya tidak di sekolahkan, di sekolahnya sendiri, MI Annizhomiyyah. Ia sekolah di luar. Di SD Negeri Labuan. Alasannya, supaya tidak dimanjakan. Karena biasanya, sekolah ditempat sendiri, apalagi anak kiai, pasti akan mendapatkan banyak keistimewaan. Kiai Rafe’i tidak mau  anaknya menjadi manja lantaran itu.

Baru sepulang sekolah ba’da zuhur, sekira jam 14.00 WIB, Ace masuk madrasah diniyah di pesantren, dibawah bimbingan para ustaz pesantren, belajar kitab fiqih dasar, seperti safinatun najah. Sedari kecil rutinitas ini selalu menghiasi hari-harinya.

Kemudian menginjak kelas 4 SD, saat dirasa pas waktunya, Ace mendapat pengajaran langsung dari ayahnya kiai Rafe’i.

“Biasanya abah mulai mengajar santri sehabis magrib. Disela-sela waktu ngaji santri, ada waktu 15 menit abah mengajar ngaji saya dulu. Berdua dengan adik saya. Kala itu kitab yang kami kaji adalah Riyadhu al awamil, kitab kecil yang menjadi basic kitab nahwu,”. Ungkap Ace.

Rutin pengajian bersama ayahnya itu ia ikuti selama dua tahun, dari kelas 4 SD hingga kelas 6 SD.

“Abah membuat diktat berisi satu kitab Riyadhu Al Awamil. Jadi saya dan adik saya membaca kitab yang dibuat oleh abah, jika ada kesalahan, maka abah akan mengoreksinya,” tambahnya.

Hasilnya, selepas SD, Ace sudah betul-betul menguasai ilmu nahwu dasar.  Selain didik soal ilmu agama, Ace kecil juga sudah diperkenalkan dengan isu-isu politik global lewat media TV.

“Kebiasaan abah saya, setiap jam 21.00 WIB, ia menghentikan semua kegiatan, selama setengah jam, ia pasti menyaksikan TVRI, acara “Dunia Dalam Berita”. Tutur Ace.

Dari situlah seolah- oleh Kiai Rafe’i memberi pelajaran kepada Ace akan pentingnya isu-isu politik global.

“Isu-isu Timur Tengah, isu-isu PBB, Perjanjian Perdamaian Camp David yang melahirkan perjanjian damai Israel-Mesir, Politik Indonesia ditengah percaturan dunia, semua masih terekam di kepala saya, melalui Dunia Dalam Berita,”. Ujar Ace.

Sementara itu, yang tak kalah penting dari segalanya, bekal ilmu Al-Quran. Ilmu pokok ini Ace dapatkan langsung dari ibu nya, Nyai Siti Sutihat. Dari sebelum masuk TK , ibunya mengajarkan huruf demi huruf AL-Quran, hingga cara membacanya. Makhraj dan panjang pendeknya. Ini rutin dilakukan setiap hari, seusai shalat subuh.

Lengkap sudah. Seluruh benih ilmu yang ditanamkan kedua orang tua nya. Itulah yang kelak menjadi bekal untuk Ace manakala melangkahkan kakinya menimba ilmu  ke pesantren lain dari kampungnya. Merantau. Memasuki majelis ilmu secara kaffah.[pit]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *