Tega! Pria di Toba Sumut Ini Dikeroyok Diduga karena Positif Covid-19

  • Whatsapp
Tangkapan layar video viral pasien Covid-19 di Toba diikat dan dipukuli warga, keluarga sebut tidak manusiawi.

INDOPOLITIKA.COM – Beredar sebuah video di media sosial yang memperlihatkan seorang pria diikat tali dan dipukul dengan kayu oleh warga. Kejadian disebutkan terjadi di Dusun Bulu Silape, Desa Sianipar II, Kecamatan Silaen.

Video kekerasan tersebut beredar di media sosial dan dikonfirmasi kebenarannya oleh salah satu kerabat korban. Korban dalam video tersebut diketahui bernama Salamat Sianipar (45).

Berita Lainnya

Dalam video itu, sejumlah orang menganiayanya menggunakan benda keras seperti kayu panjang. Sementara beberapa orang yang lain hanya menonton. Tak cuma dipukuli, korban juga diikat dan diseret-seret hingga tersungkur.

Video saat Salamat Sianipar mendapat penganiayaan di-posting oleh keponakannya, Jhosua Lubis di Instagram.

Dia mengatakan, kejadian memilukan itu menimpa paman atau tulangnya pada Kamis (2/7/2021) lalu. Jhosua yang tinggal di Depok, Jawa Barat itu menjelaskan, kronologi kejadian berawal saat tulangnya terkena Covid-19. Namun, dokter meminta Salamat Sianipar untuk menjalani isolasi mandiri.

“Awalnya tulang saya terkena Covid-19. Dokter menyuruh isolasi mandiri,” katanya, dikutip dari Instagram-nya.

Namun, masyarakat setempat tidak terima Salamat yang positif Covid-19 menjalani isolasi mandiri. Dia malah dijauhkan dari kampungnya, Bulu Silape dan tidak bisa pulang ke rumahnya.

Parahnya lagi, kata Jhosua, tulangnya diikat dan dipukuli warga setempat.

“Masyarakat tidak terima, akhirnya dia dijauhkan dari Kampung Bulu Silape. Dia kembali lagi ke rumahnya, tetapi masyarakat tidak terima. Malah masyarakat mengikat dan memukuli dia. Seperti hewan dan tidak ada rasa manusiawi,” kata Jhosua.

Keluarga yang mengetahui perlakuan warga terhadap pamannya, Salamat, tentu saja tidak terima. Mereka menganggap perlakuan tersebut sudah tidak manusiawi dan tergolong penyiksaan.

“Kami dari pihak keluarga tidak menerima dan ini tidak manusiawi lagi,” ujarnya.

Keluarga yang mengetahui perlakuan warga terhadap pamannya, Salamat, tentu saja tidak terima. Mereka menganggap perlakuan tersebut sudah tidak manusiawi dan tergolong penyiksaan.

“Kami dari pihak keluarga tidak menerima dan ini tidak manusiawi lagi,” ujarnya.

Dia juga mengatakan, pemerintah harus memberikan edukasi kepada masyarakat terkait Covid-19 agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi.

“Perlu adanya edukasi dari pemerintah untuk masyarakat tentang Covid-19,” ujarnya.

Tak hanya itu, Jhosua juga menegaskan, perbuatan masyarakat terhadap pamannya telah melanggar hukum. Kejahatan kemanusiaan ini diatur dalam Statuta Roma dan diadopsi dalam Undang-Undang No 26 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia.

“Hukum Indonesia juga tegas melarang penyiksaan. Konstitusi Indonesia, Undang-Undang Dasar 1945, menyatakan hak untuk bebas dari penyiksaana dalah hak yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun. Hak untuk bebas dari penyiksaan juga tertuang dalam UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia,” tulisnya.

“Kami berharap Keadilan Ditegakkan Setegak-tegaknya Kepada Presiden & Wakil Presiden, Pemerintah & Aparatur Negara untuk menindaklanjuti Kejadian ini,” kata Jhosua. [rif]

Berita terkait


INDOPOLITIKA TV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *