INDOPOLITIKA – Industri media sedang berada dalam situasi sulit. Perubahan teknologi mendorong perubahan pula dalam cara mengakses informasi. Media jurnalistik tak lagi memonopoli akses akan informasi.

Eksistensi beragam platform digital mendisrupsi segalanya. Sosial media pun jadi sarana utama masyarakat dalam memperoleh informasi. Merujuk survei Goodstats per Oktober 2024, 89 persen masyarakat memperoleh informasi via sosial media. Tinggal 50 persen masyarakat yang masih melihat situs web atau televisi sebagai sarana mencari informasi.

Ceruk yang semakin terbatas membuat bisnis media semakin sulit. Salah satu media yang kesulitan itu adalah Tempo. Bahkan sempat terjadi aksi protes yang dilakukan karyawan Tempo akibat urusan perut.

Masalah yang dialami Tempo sejatinya bukan sekadar urusan ceruk bisnis yang semakin kecil. Persoalannya adalah masalah kredibilitas sebagai sebuah media.

Bukan rahasia lagi bahwa media jurnalistik konvensional sejatinya masih diharapkan menjadi penjernih di tengah bertebarannya sampah informasi di media sosial. Media yang bertahan pada akhirnya adalah media yang bisa menjaga kredibilitas dan independensinya.

Inilah akar utama masalah Tempo. Sebagai media yang sejak dahulu kerap bermain ‘kotor’, Tempo pun kena getahnya. Gaya ‘memukul’ untuk mencari cuan inilah yang dinilai menjadi model bisnis Tempo.

Masalahnya model bisnis seperti ini kini dikuasai buzzer. Walhasil hadirnya buzzer dengan gaya komunikasi yang lebih blak-blakan di setiap agendanya mendisrupsi Tempo.

Gaya jurnalistik yang identik dengan buzzer semakin dipertontonkan Tempo via media sosial. Simak saja tayangan podcast Bocor Alus Tempo. Sama halnya seperti buzzer, narasi yang disajikan tak jelas dan tak bisa diverifikasi.

Padahal salah satu ciri jurnalistik yang baik adalah saat narasi pemberitaan bisa dipertanggungjawabkan secara mendetail. Detail soal informasi, data, narasumber, hingga verifikasi yang lengkap.

Yang disajikan dalam tayangan Bocor Alus maupun pemberitaan Tempo adalah narasi yang sangat mentah. Bukan data apalagi fakta dan hanya berlandaskan ‘katanya’. Gaya Tempo ini sama halnya seperti buzzer. Info gosip warung kopi pun disebar ke platform digital. Semua minim verifikasi, detail informasi, dan berbasis ‘katanya’.

Jurnalisme ‘ala buzzer’ ini terlihat dengan kecenderungan Tempo yang kerap memakai pengakuan sumber anonim yang sama sekali tidak jelas akurasi faktanya. Tak ada data, fakta, hanya sekadar ‘katanya’.

Kata pengakuan dari sumber anonim yang begitu lemah. Sekalipun dirahasiakan identitasnya, Tempo tak bisa mengklasifikasi apakah kualitas narasumbernya adalah sumber primer, sekunder, atau jangan-jangan malah imajiner!

Tak hanya gaya, modus operandi Tempo dan buzzer punya kemiripan. Ada soal cuan di balik narasi pemberitaan yang kerap menyasar pada sosok berkuasa atau punya uang. Yang teranyar Menteri Pertanian Amran Sulaiman jadi sasaran.

Yang menarik dalam salah satu tayangan Podcast Bocor Alus Tempo itu salah satu host menyindir pihak narasumber yang enggan beriklan di Tempo! Sebuah pesan tidak langsung dari sang wartawan yang bisa diartikan karena tidak ada yang maka berita pun tayang.

Modus mencari cuan via iklan di balik pemberitaan inilah yang menjadikan kualitas jurnalistik Tempo ‘boyak’. Boyak adalah istilah untuk menjelaskan kualitas tembakau yang busuk. Tak lagi berharga dan hanya jadi sampah semata.

Celakanya jika produk jurnalistik yang boyak dampaknya jauh lebih merusak dari tembakau. Merusak, memfitnah, dan memutar balikkan fakta sehingga menyesatkan orang yang membacanya.

Inilah pentingnya dewan pers untuk bertindak pada media yang sudah berulang kali melanggar kode etika demi kepentingan perut mereka. Saatnya Dewan pers tindak tegas jurnalisme boyak ala buzzer bernama Tempo! (***)

Penulis: Febrian Muda (Aktivis PMKRI)

Cek berita dan artikel menarik lainnya di Google News Indopolitika.com