Temuan Situs Kuno di Stasiun Bekasi Diduga Cagar Budaya Bersejarah, Begini Cerita Sejarawan

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Belakangan ini Stasiun Bekasi menjadi perhatian setelah adanya penemuan bangunan dan benda kuno di bawah tanah. Tekstur bangunan itu terbuat dari bata merah yang telah kusam dengan tanah, benda-nya berupa jendela besar dari kayu pada umumnya, tempo dulu.

Bangunan dan benda kuno itu ditemukan oleh pekerja Double-Double Track yang dinaungi PT. Kereta Api Indonesia, Minggu (9/8/2020) akhir pekan kemarin.

Berita Lainnya

Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi menduga penemuan sejumlah bangunan di bawah tanah Stasiun Kota Bekasi merupakan peninggalan sejarah zaman penjajahan Jepang.

“Kita takut situs itu bersejarah. Makanya kita bikin surat ke lembaga-lembaga cagar budaya, supaya kita tidak disalahkan,” kata pria yang disapa Pepen itu kepada wartawan, Selasa (11/8/2020).

Menurutnya, bila dilihat dari bentuk bangunan yang ditemukan, bangun tersebut mirip seperti bangunan bawah tanah.

“Karena bentuknya (seperti lorong, red), belum lihat? Saya sudah. Kalau kita lihat itu ya, minimal bangunan bawah tanah,” katanya.

Ia memberikan contoh, seperti di museum di DKI Jakarta, batu bata yang ditemukan di Stasiun Kota Bekasi memiliki panjang sekitar 30 centimeter, ketinggian 5 centimeter dan lebar sekitar 8 sampai 9 centimeter.

“Artinya itu sudah bata modern, nah hanya bentuk gini dulu bentuk saluran. Tapi kalau itu saluran gak mungkin, karena kalau (itu) saluran masuk ke kali Bekasi. Tapi (saya kira) seperti bangunan mungkin jaman Jepang,” kata Pepen.

Terlebih, katanya, ketika itu banyak tentara Jepang yang dibantai di dekat benda dan batu bata yang ditemukan tersebut.

“Dulu zaman Jepang banyak dipotongin (dibantai di Kali Bekasi, red). Bisa saja itu bekas markas Jepang. Besar kemungkinan, tapi sejarah yang menentukan,” ungkap dia

Ia mengaku khawatir benda dan bangunan yang ditemukan di bawah pembangunan revitalisasi Stasiun Kota Bekasi merupakan tempat situs barang bersejarah.

“Nah kalau gak ada? Ini kan ada program pembanguan stasiun DDT, yang penting itu dievaluasi, dicek nilai-nilai. Tapi jangan mengganggu program pembangunan, makanya kita kirim buru-buru, biar cepat diantisipasi,” terangnya.

Namun, keterangan tersebut dibantah sejarawan Bekasi, Ali Anwar. Menurutnya jika dilihat historis ragam cerita, tidak ada aksi pembantaian di Stasiun Bekasi. Pembantaian sekutu Jepang sebanyak 90 orang terjadi di tepi Kali Bekasi yang jaraknya berkisar 300 meter dari stasiun.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *