Internasional

Terlibat Plot Bom, Diplomat Iran Diekstradisi Jerman

Ilustrasi oleh Medcom.id

Berlin: Pengadilan Jerman menyetujui proses ekstradisi atas seorang diplomat Iran. Sebelumnya, diplomat itu diduga terlibat plot pengeboman.
 
Keputusan pada Senin 1 Oktober itu menjelaskan bahwa seorang diplomat Iran yang terkait dengan dugaan plot bom terhadap sebuah aksi protes oleh oposisi Iran, akan diserahkan ke Belgia.
 
Pengadilan tingkat tinggi di Bamberg mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pada 27 September, menyetujui ekstradisi diplomat Iran yang berbasis di Wina itu. Pria itu diketahui bernama Assadollah Assadi.
 
"Pria yang dicari itu tidak dapat menggunakan kekebalan diplomatik karena dia sedang dalam perjalanan liburan beberapa hari di luar negara tempat dia ditugaskan, Austria. Dia tidak bepergian antara negara tuan rumah dan negara yang mengirimnya," kata pengadilan, seperti dikutip dari AFP, Senin, 1 Oktober 2018.
 
Tersangka diduga hendak menyerang demonstrasi dari Dewan Nasional Perlawanan Iran (NCRI) di pinggiran kota Paris, Prancis. Rencana ini terungkap beberapa hari setelah aksi protes pada 30 Juni.
 
Enam orang ditangkap di Belgia, Prancis dan Jerman, dua di antaranya kemudian dibebaskan.
 
Jaksa Jerman mengatakan Assadi, yang diyakini sebagai agen intelijen, memerintahkan sepasang pelaku untuk menyerang unjuk rasa itu. Assadi diduga kuat memberikan bahan peledak pada pertemuan Juni di Luksemburg.
 
Teheran telah menolak dugaan plot bom itu sebagai 'taktik jahat' yang dirancang untuk mendiskreditkan Iran pada saat negara itu menghadapi ketegangan diplomatik panas dengan Amerika Serikat (AS).
 
Rapat umum di pinggiran Paris, Villepinte dihadiri oleh beberapa sekutu Presiden AS Donald Trump, termasuk mantan Wali Kota New York, Rudy Giuliani dan mantan Ketua DPR AS Newt Gingrich. Keduanya mendesak perubahan rezim di Iran.
 
Pihak berwenang Belgia pada Juli meminta ekstradisi kedua Assadi dan seorang pria yang diidentifikasi sebagai Merhad A., yang ditahan di Paris.
 
Polisi Belgia percaya bahwa Merhad A. adalah kaki tangan dari tim suami-istri yang tertangkap di Brussels dengan kepemilikan 500 gram bahan peledak TATP yang kuat dan sebuah detonator.
 
Pasangan itu diidentifikasi sebagai Amir S. dan Nasimeh N. Ketiganya adalah warga negara Belgia yang berasal dari Iran.

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close