Internasional

Tingkatkan Kemampuan Bahasa Inggris dalam Kerja Sama Selatan-Selatan

Bimbingan teknis untuk penyelenggara Kerja Sama Selatan-Selatan dalam bidang Bahasa Inggris (Foto: Dok.Kemenlu RI).

Bali: Bahasa Inggris tak bisa dipungkiri sebagai bahasa yang digunakan secara internasional. Untuk itu, dalam rangka Kerja Sama Selatan-Selatan, diperlukan para pejabat yang bisa menguasai bahasa ini dengan baik.
 
Hal ini yang menjadi perhatian oleh Direktorat Kerja Sama Teknik Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia yang bekerja sama dengan UPT Lab Bahasa Universitas Udayana.
 
Melalui kerja sama ini, selama dua minggu ke depan 20 orang instruktur/fasilitator dari berbagai balai/pusat pelatihan Kementerian/Lembaga akan berpartisipasi pada kegiatan 'Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas Penyelenggara Kerja Sama Selatan-Selatan (KSS) Indonesia di Bidang Bahasa Inggris' yang diselenggarakan pada 2–16 September 2018 di Denpasar, Bali.
 
Bimbingan teknis (Bimtek) peningkatan kapasitas ini merupakan salah satu Program Prioritas Nasional (ProPN) Pemerintah Indonesia untuk Tahun Anggaran 2018. Adapun tujuan dari Bimtek yakni untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris para instruktur/fasilitator, khususnya dalam menyampaikan presentasi pada peserta internasional, serta memberikan pendalaman pemahaman mengenai KSS.
 
Pemerintah Indonesia melalui kerangka KSS, telah berhasil menyelenggarakan program-program kerja sama teknik di berbagai bidang, di antaranya pertanian, perikanan, perternakan, micro finance, disaster risk management, demokratisasi, dan UKM. Bidang-bidang ini merupakan sektor unggulan Indonesia yang telah memperoleh pengakuan dari negara-negara lain. Namun tentunya masih banyak sektor-sektor potensial lain yang dapat dipromosikan sebagai kapasitas nasional.
 
"Partisipasi para instruktur/fasilitator pada Bimtek merupakan salah satu langkah Kementerian Luar Negeri untuk mengajak dan mencoba mengidentifikasi peluang dan potensi kapasitas nasional di sektor-sektor yang dikuasai para peserta Bimtek," ujar Direktur Diplomasi Publik, Ditjen Informasi dan Diplomasi Publik, Kementerian Luar Negeri RI, Azis Nurwahyudi, pada saat membuka resmi acara Bimtek.


Direktur Diplomasi Publik, Ditjen IDP, Kemenlu RI, Azis Nurwahyudi (Foto: Dok. Kemenlu RI).
 
Sementara Kepala UPT Lab Bahasa Universitas Udayana, I Nyoman Udayana, Ph.D. yang menyampaikan apresiasi atas kepercayaan Kementerian Luar Negeri memilih Universitas Udayana sebagai penyelenggara Bimtek. Kurikulum pengajaran selama 2 minggu akan difokuskan pada teknik komunikasi efektif agar para peserta Bimtek dapat lebih menguasai penyampaian gagasan yang tepat guna. 
 
Dalam Bimtek ini, para peserta akan memperoleh pengajaran dari para narasumber mumpuni termasuk native speaker asal Australia. Para peserta akan diberikan kesempatan untuk memaparkan informasi dan pengetahuan mengenai keunggulan sektor masing-masing.
 
"Perlu saya tekankan bahwa implementing agencies (pihak yang menerapkan), baik balai maupun pusat-pusat pelatihan lainnya, sebagai garda terdepan dalam penyelenggaraan bantuan internasional Indonesia, perlu untuk terus meningkatkan kapasitas yang dimiliki. Peningkatan kapasitas dalam berbahasa Inggris menjadi salah satu unsur penting dan utama bagi para instruktur, mengingat para peserta pelatihan berasal dari mancanegara," tegas Azis, dalam keterangan tertulis Dit Kerja Sama Teknis, Ditjen Informasi dan Diplomasi Publik Kemenlu RI, yang diterima Medcom.id, Senin 3 September 2018.
 
Diharapkan agar Bimtek ini dapat menjadi forum melatih kepercayaan diri dan keterampilan para tenaga ahli Indonesia untuk dapat membangun komunikasi dua arah dengan peserta pelatihan internasional.
 
Sebagai salah satu ProPN, Bimtek ini menjadi salah satu bentuk komitmen Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kontribusi dan peran aktifnya dalam mendukung kesejahteraan global khususnya melalui kerangka KSS. Apalagi saat ini Indonesia turut memangku kewajiban untuk berpartisipasi mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs) dan memastikan terlaksananya kemandirian dan kehidupan sosial yang lebih baik dengan mengedepankan prinsip 'no one left behind' atau 'Tidak ada satu orang pun yang ditinggalkan'.
 
Selain belajar kemampuan Bahasa Inggris, para peserta juga mendapat kesempatan untuk memahami lebih lanjut perkembangan KSS Indonesia serta pentingnya peran aktif Kementerian/Lembaga dalam menyusun laporan pelaksanaan kegiatan secara komprehensif.
 
Sementara para instruktur/tenaga ahli KSS untuk Bimtek tahun ini wakilnya berasal dari Balai Penelitian Tanaman Palma (Balit Palma) Manado, Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Ambon, Damkar DKI Jakarta, BPPP Banyuwangi, Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Museum Konferensi Asia Afrika (MKAA), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), BPPP Batu Malang, BPPP Ketindan, Balai Pengendalian Perubakan Iklim, Panti Sosial Mahatmiya Bali dan Kementerian KUKM.

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close