Toraja Dihebohkan Dengan Pria Yang Mengaku Sebagai Nabi Terakhir

  • Whatsapp
Paruru Daeng Tau pria yang mengaku sebagai nabi umat Islam yang terakhir

INDOPOLITIKA.COM- Nama Paruru Daeng Tau tengah menjadi perbincangan warga Dusun Mambura, Lembang Buntu, Kecamatan Mengkedek, Kabupaten Tana Toraja. Bukan tanpa alasan, Paruru menjadi bahan pembicaraan karena dirinya sudah mengaku sebagai Nabi terakhir umat Islam.

Karena dianggap meresahkan warga, kemudian Majelis Ulama Indonesia, Kementerian Agama dan Aparat Kepolisian memanggil Paruru untuk dimintakan keterangannya.

Muat Lebih

Setelah memberikan keterangan selesai, oleh pihak kepolisian Paruru diperbolehkan kembali ke rumahnya. Humas Polres Tana Toraja, Aiptu Erwin mengatakan Paruru tidak ditahan lantaran belum ada laporan resmi dari masyarakat kepada polisi.

“Setelah itu, belum ada pelaporan resmi.Tetapi bukan karena tidak ada laporan polres tidak melakukan apa apa. Lalu orang ini dibawa ke Polres untuk dilakukan pengamanan atau diamankan jangan sampai terjadi amuk massa,” ujarnya.

Namun belakangan, tidak lama setelah pertemuan itu terjadi, Paruru  pergi meninggalkan Tana Toraja. Menurut informasi  terakhir, Paruru berada di Luwu, Sulawesi Selatan. Pria Tambun asal Gowa Sumatera Selatan melarikan diri setelah mengetahui dirinya dilaporkan ke kantor polisi oleh warga karena dianggap sudah meresahkan warga Tana Toraja.

“Informasi terakhir dia kabur ke daerah Luwu (Sulawesi Selatan), karena disana dia juga punya pengikut,” kata Paur Humas Polres Tana Toraja, Aiptu Erwin

Setelah sempat diamankan polisi pada Jumat (29/11), Paruru kemudian menghilang dan bersembunyi. Polisi menduga, Paruru si Nabi palsu ini sudah meninggalkan Tana Toraja.

“Orang ini informasinya juga sudah tidak ada lagi di Tana Toraja. Saya tidak bilang lari ya, tapi meninggalkan Toraja,” ucap Erwin.

Mengetahui, Paruru sudah tidak lagi berada di Tana Toraja, Wakil Bupati Tana Toraja Viktor Datuan Batara, mengaku geram. Pemerintah Kabupaten Tana Toraja pun meminta aparat dapat menindak tegas pelaku.

“Kalau saya ini sangat mengganggu dan perlu ditindak tegas, sehingga tidak berkembang. Apalagi Toraja ini terkenal dengan forum umat beragama yang sangat rukun,” kata Viktor.

Sebagai informasi, Nabi palsu Paruru Daeng Tau diketahui sebagai pemimpin organisasi masyarakat bernama Lembaga Pelaksana Amanah Adat dan Pancasila (LPAAP). Organisasi ini mengaku Islam namun dalam praktiknya tidak sesuai dengan ajaran agama Islam. Dari ormas inilah Paruru menyebarkan aliran sesat yang bertentangan dengan Islam hingga dirinya punya pengikut sekitar 50 orang atau 8 kepala keluarga.

Dalam aktivitasnya, Paruru mengaku sebagai nabi terakhir. Pengakuan ini bahkan telah dilontarkannya sejak lama di Kabupaten Gowa. Namun pada saat itu dirinya hanya mendapat teguran dari tokoh masyarkat. Beberapa ajarannya yang dianggap menyimpang antara lain, salat hanya perlu dilakukan dua kali sehari, tata cara salat yang tidak sesuai dengan syariat, dan tidak perlu mentaati rukun Islam. Bahkan pengikutnya tidak perlu puasa saat Ramadan, tidak wajib membayar zakat, dan tidak harus haji.

Melihat ajaran yang menyimpang tersebut, MUI Tana Toraja langsung mengeluarkan fatwa bahwa Lembaga Pelaksana Amanah Adat dan Pancasila (LPAAP) tidak sesuai dengan ajaran agama Islam sehingga aliran tersebut dianggap sesat.

MUI Tana Toraja meminta kepala Kantor Kementerian Agama Tana Toraja memberikan pembinaan kepada masyarakat terkait aktivitas LPAAP yang menyimpang dari ajaran agama Islam.

Ketua MUI Tana Toraja KH Ahmad Zainal Muttakin bahkan meminta kejaksaan Tana Toraja menutup seluruh aktivitas LPAAP.

“Kami meminta Kesbangpol untuk tidak memberikan izin perpanjangan SKT kepada LPAAP yang mengantongi SKT Kesbangpol Tana Toraja sejak tahun 2016,” katanya.

Jika terbukti bersalah, nabi palsu Paruru Daeng Tau bisa dikenakan pasal tentang penodaan agama yang tertuang dalam pasal 156 dan 156a KUHP, yang berbunyi:

“Barang siapa di muka umum menyatakan perasaan permusuhan, kebencian, atau penghinaan terhadap suatu atau beberapa golongan rakyat Indonesia, diancam dengan pidana penjara paling lama 4 tahun atau pidana denda paling banyak Rp 4.500.”

“Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya 5 tahun barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang bersifat permusuhan, penyalahgunaan, atau penodaan terhadap suatu ahama yang dianut di Indonesia.” [pit]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *