Transformasi Mason Mount: Anak Akademi hingga Jadi Calon Kapten Masa Depan Chelsea

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Nama Mason Mount begitu dielu-elukan para penggemar Chelsea. Penyebabnya, dia seakan menjadi pahlawan disaat Chelsea mengalami penurunan dan dilanda masalah karena larangan transfer.

Mason Mount bak cahaya yang bersinar dalam situasi sulit The Blues. Chelsea menerima hukuman larangan transfer beberapa musim lalu, ditambah dengan kepergian Eden Hazard ke Real Madrid.

Berita Lainnya

Banyak dari mereka kalangan fans mempertanyakan, bagaimana Chelsea akan bangkit dengan situasi seperti itu?

Ulasan Football London menyebutkan, Mason Mount adalah jawabannya.

Mason Mount ditarik Frank Lampard untuk membela tim utama The Blues pada 2019 kala umurnya masih 20 tahun.

Seketika itu dia menjadi anak kesayangan Lampard berkat penampilannya yang begitu impresif di atas lapangan hijau.

Tidak mudah bagi Mount, tetapi itulah yang dia jalani hingga saat ini menjadi tulang punggung untuk skuat Thuchel, baik dalam serangan dan kerap menjadi inisiator bagi rekannya untuk menghasilkan gol.

Jake Stoke dari Football London menyebutkan, Mason Mount adalah wajah Chelsea dan akan terus begitu selama bertahun-tahun yang akan datang.

“Sikap, mentalitas, kemampuan yang berkembang, dan semangat untuk semua yang diperjuangkan klub,” kata Jake Stoke.

Apa yang ia lihat tentang Mason Mount berbeda dengan pemain jebolan akademi lainnya, dia memiliki hati yang tulus dan tekad atau kemampuan untuk mencapai keberhasilan.

Stoke bahkan menyamakannya dengan mantan-mantan pemain Chelsea seperti John Terry dan Frank Lampard.

Apalagi sejak kehadiran Thomas Tuchel yang menggantikan Frank Lampard di kursi kepelatihan.

Keberaniannya memberikan gol kemenangan Chelsea di final Liga Champions di bawah tekanan besar dari seluruh penjuru negeri.

Menurut Stoke, Mount memiliki aura seperti legenda Chelsea di atas, suatu hari namanya akan disebut-sebut oleh penggemar sebagai salah satu pemain terbaik yang pernah dimiliki Chelsea.

Sedangkan bagi Jai Mcintosh, Mason Mount adalah transformasi Chelsea selama tiga tahun terakhir.

“Dia adalah pemain yang paling fit dan salah satu pemain yang paling konsisten. Dia melakukan banyak hal untuk membuat dirinya disayangi oleh para pendukung setia Stamford Bridge,” kata Jai.

Berbeda dengan Jai dan Stoke, Anita Abayomi menyebutkan Chelsea adalah pemimpin masa depan Chelsea.

Dia ditakdirkan untuk menjadi kapten masa depan klub masa kecilnya sejak bergabung dengan akademi Chelsea pada tahun 2015.

Respon yang disampaikan oleh kolumnis Football London adalah reaksi ketika melihat spanduk berukuran sekitar 10×5 meter terbentang di Stamford Bridge saat Chelsea menjamu Aston Villa.

Dalam spanduk besar itu terpampang foto Mason Mount dengan tulisan, “Mason Mount: The Boy Who Had a Dream”.

Apa yang dilakukan fans Chelsea adalah wujud apresiasi untuk Mason Mount.

Tim fans Chelsea dari CareFreeChelsea menyebutkan, spanduk itu adalah hasil dari pandangan dan reaksi mereka terhadap Mason Mount, dan mereka menyebutkan itu adalah hal yang pantas untuk disejajarkan dengan Frank Lampard, John Terry, Didier Drogba, dan Eden Hazard.

Jai Mcintosh melanjutkan pandangannya, spanduk itu dianggap sangat menyentuh, mengejutkan banyak orang karena tidak semua pihak bisa menerima ungkapan tersebut.

“Mason Mount tampaknya ditakdirkan untuk memiliki sebagian kecil dari penggemar Chelsea yang tidak mendukungnya,” kata Jai.

Mason Mount bergabung di akademi Chelsea sejak usia delapan tahun, dia melakukan banyak hal untuk bisa menembus skuat utama The Blues.

“Tidak ada yang salah dengan spanduk itu, mereka yang keberatan mungkin tidak mengerti dengan apa yang telah diperjuangkan Mount,” jelasnya.

Namun, soal spanduk tersebut juga mengalami banyak perdebatan karena beberapa pemain The Blues lainnya juga layak mendapatkan apresiasi seperti itu, seperti Reece James dan N Golo Kante.[fed]

Berita terkait


INDOPOLITIKA TV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *