INDOPOLITIKAPemkot Tangsel terus berupaya keras meminimalkan dan memerangi Tuberkulosis (TBC) dengan memperkuat langkah konkret, mengedepankan aksi jemput bola dan kolaborasi masyarakat.

Nantinya, pihak wilayah di RW yang ditunjuk kelurahan sebagai RW Bebas TBC bertanggungjawab untuk mengedukasi masyarakat sekitar sehingga jadi garda depan deteksi dini orang yang alami gejala TBC.

Pada tahun 2025 ini, Pemkot Tangsel menargetkan 10 persen RW harus sudah deklarasikan RW bebas TBC. Kemudian di 2030, 100 persen RW sudah deklrasikan bebas TBC.

Pendekatan Jemput Bola

Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie menegaskan komitmennya dalam memerangi TBC lewat gerakan masif yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

Lewat pendekatan jemput bola dan edukasi berbasis komunitas, Tangsel kini tak lagi menunggu pasien datang ke puskesmas, tapi aktif mendatangi warganya.

“TBC adalah persoalan serius yang harus ditangani bersama. Kita tidak bisa hanya mengandalkan layanan di faskes (fasilitas kesehatan) saja ya, menunggu mereka yang datang, jadi kalau mau cepat ya kita juga harus jemput bola tim kesehatan yang ngider ke warga-warga,” ujar Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie dalam keterangannya, dikutip Selasa, (15/7/2025).

Langkah ini sejalan dengan upaya Dinkes Tangsel melalui program andalan Ngider Sehat dan RW Bebas TBC. Keduanya menjadi program strategi dalam menemukan kasus secara aktif dan menekan penularan di lingkungan padat penduduk.

Kepala Dinkes Tangsel dr Allin.

Rutin Skrining

Sementara itu, Kepala Dinkes Tangsel, dr. Allin Hendalin Mahdaniar menyebut, tim kesehatan kini secara rutin melakukan skrining dan investigasi kontak di lingkungan pasien TBC, terutama di kalangan kontak serumah dan kontak erat.

“Salah satu strategi kami adalah melalui kegiatan Ngider Sehat dan Cek Kesehatan Gratis (CKG), baik yang digelar di fasilitas kesehatan maupun langsung mengunjungi warga,” ujar Allin.

Melalui kegiatan Ngider Sehat, tim medis melakukan skrining dan investigasi kontak terhadap pasien TBC yang telah terdata, terutama kepada kontak serumah dan kontak erat.

Bagi mereka yang tidak bergejala, akan diberikan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT), sementara yang menunjukkan gejala langsung diarahkan menjalani pemeriksaan seperti Tes Cepat Molekuler (TCM) atau rontgen.

TCM biasanya digunakan untuk mengetahui apakah kontak tersebut sudah mendapatkan penularan dari indeks kasus.

RW Bebas TBC

Tidak hanya itu, Dinkes Tangsel juga mendorong partisipasi aktif masyarakat melalui program RW Bebas TBC.

Warga diajak untuk tidak hanya memahami gejala dan penularan TBC, tetapi juga terlibat langsung dalam mendukung pasien agar tidak menyerah di tengah jalan.

“Masyarakat juga bagian dari kunci eliminasi TBC ini. Makanya, kita perluas edukasi dari petugas fasyankes, dan warga juga perlu peduli jika ada pasien TBC yang berpindah tempat tinggal agar dapat dilacak dan dipantau kembali,” jelasnya.

Road Map Penyelesaian TBC

Sementara itu, anggota Komisi II DPRD Tangsel Zulfa Sungki Setiawati menuturkan, Pemkot Tangsel melalui dinas terkait yakni Dinkes Kota Tangsel harus memiliki road map untuk penyelesaian masalah TBC. Pihaknya meminta Dinkes untuk fokus menangani persoalan tersebut.

’’Dinkes harus memiliki tahapan dan target untuk menangani penyakit TBC,’’ kata Zulfa.

Dia mengatakan, pihaknya juga meminta Pemkot Tangsel untuk memperhatikan fasilitas layanan kesehatan di Tangsel. Mulai dari puskesmas hingga rumah sakit.

’’Cari formula yang tepat supaya masyarakat dengan kesadaran sendiri dan sukarela memeriksakan dirinya tanpa adanya ketakutan,’’ ujarnya.

Menurut dia, dengan begitu kasus TBC di Kota Tangsel dapat ditekan. Tak hanya itu, Pemkot Tangsel juga diminta aktif melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk mencegah agar tidak terjangkit penyakit itu.

’’Tidak hanya di perwilayah, tapi jemput bola agar hasilnya maksimal. Kemudian, juga ikut sertakan seluruh stakeholder, tidak hanya OPD saja,’’ pungkasnya. (Adv)

Cek berita dan artikel menarik lainnya di Google News Indopolitika.com