Ulama Syiah Irak Sebut Wabah Corona Imbas Pernikahan Sesama Jenis  

  • Whatsapp
Ulama Syiah Muqtada al-Sadr. Foto/AFP

INDOPOLITIKA.COM – Komentar Ulama Syiah Muqtada al-Sadr yang mengkaitkan wabah Corona karena dilegalkannya pernikahan sesama jenis di berbagai negara, menuai kecaman luas. Tidak hanya dari aktivis LGBT, tetapi juga dari masyarakat biasa. Kelompok aktivis LGBT malah balik menuduh Ulama Syiah takut terinfeksi Corona sehingga mempolitisasi virus itu.

Komentar Ulama Syiah Muqtada al-Sadr disampaikan melalui Twitternya pada Sabtu, (28/3/2020) lalu. Dia memperingatkan bahwa wabah global yang sejauh ini telah menewaskan lebih dari 35 ribu orang di seluruh dunia, tidak akan surut kecuali pemerintah mencabut Undang-undang yang mengesahkan pernikahan sesama jenis.

Bacaan Lainnya

“Salah satu hal paling serius yang menyebabkan epidemi ini menyebar adalah legalisasi (pernikahan sesama jenis). Karena itu, saya meminta semua pemerintah untuk segera mencabut Undang-undang ini sesegara mungkin dan tanpa penundaan,” cuitnya.

Tidak lama setelah Tweet tersebut, Sadr, yang memiliki banyak pengikut di Irak, menerima lebih dari 10 ribu tanda jempol, tetapi ada juga sekitar 6 ribu balasan yang mengkritik komentarnya.

Salah satunya disampaikan Editor Jaringan Media Irak, Aya Mansour. “Corona tidak berbahaya seperti pernyataan Anda,” balasnya.

“Salah satu hal paling berbahaya yang akan menyebabkan epidemi ini menyebar adalah kicauan dari kawanan Anda,” kata Ahmed Fawzi, seorang aktor dan peneliti di Albasheer Show, merujuk pada keputusan pengikut Sadr untuk tetap berkumpul setelah krisis diumumkan.

Dan aktivis dan fotografer Irak Ali Dab Dab hanya men-tweet, “Sumber?”

Yang lain menunjukkan bahwa tidak ada satu pun negara yang terkena dampak terburuk dari penyakit, seperti Cina, Italia dan Iran, sepenuhnya melegalkan pernikahan sesama jenis (China memang memiliki pengakuan terbatas, sementara Iran dan Italia memiliki serikat sipil).

Martin Huth, duta besar Uni Eropa untuk Irak, tidak secara langsung menanggapi komentar dalam pernyataan Sadr, tetapi men-tweet grafik tentang saran kebersihan.

Serangan Pada Komunitas LGBT

Meskipun homoseksualitas tidak ilegal di Irak, tapi itu sangat tabu. Anggota Komunitas LGBT telah berulang kali diserang dan dibunuh di masa lalu. Organisasi hak asasi manusia telah mendokumentasikan pelanggaran LGBT oleh milisi, termasuk Tentara Mahdi, bekas pasukan militer Sadr.

Human Rights Watch menemukan bahwa kampanye eksekusi, penculikan dan penyiksaan di luar pengadilan yang luas pada awal 2009 telah dimulai di Kota Sadr di Baghdad, sebuah lingkungan yang diberi nama sesuai dengan ayah ulama tersebut dan di mana ia menikmati dukungan besar-besaran.

Pada 2016, Sadr mengatakan bahwa meskipun ia menentang homoseksualitas, ia juga menentang kekerasan yang dilakukan terhadap kelompok gay dan memperingatkan pengikutnya terhadap serangan kelompok tersebut.

Dalam sebuah pernyataan pada Minggu (29/3/2020), kelompok LGBT Irak, IraQueer mengutuk komentar Sadr dan menuduhnya “mempersenjatai” ketakutan dan kecemasan warga Irak.

“Membuat pernyataan bodoh seperti itu tidak hanya akan membahayakan nyawa orang LGBT +, tetapi juga akan membahayakan nyawa semua warga Irak,” kata kelompok itu dalam pernyataannya.[asa]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *