Pemerintahan

Upaya Membangun Ekosistem Sehat Industri Perunggasan

JAKARTA – Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn) Moeldoko menerima perwakilan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk, di kantornya, Rabu, 17 Oktober 2018. Pertemuan ini menindaklanjuti audiensi sebelumnya dengan Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan) pada 2 Oktober 2018.

Dalam pertemuan tersebut, Moeldoko mengajak perwakilan dari Charoen dan Japfa berdiskusi secara santai dan terbuka mengenai perkembangan terbaru di industri perunggasan. Persoalan yang mengemuka, antara lain kualitas anak ayam atau day old chick (DOC), penurunan harga ayam dan telur, serta kenaikan harga jagung yang mendorong harga pakan ternak.

“Intinya, kita ingin ekosistem industri perunggasan sehat dan kecukupan protein hewani bagi rakyat terpenuhi dengan harga yang terjangkau. Apalagi, kita sedang memerangi stunting,” ujar Moeldoko, yang didampingi Deputi III Denni Puspa Purbasari, saat menemui perwakilan dari kedua perusahaan.

Sepakat dengan Moeldoko, Achmad Dawami, Head of Marketing Broiler Commercial Poultry Division PT Ciomas Adisatwa, anak usaha PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk, menambahkan bahwa pada protein hewani, ada zat yang sangat penting untuk menumbuhkan kecerdasan anak. “Itu tidak terdapat di protein nabati,” jelas Achmad, yang juga Ketua Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) Indonesia.

Karena itu, industri ayam dan telur penting untuk menyokong kebutuhan nutrisi rakyat akan protein hewani. Apalagi, konsumsi daging ayam Indonesia saat ini masih rendah. “Kita hanya 12 kilo per kapita per tahun, sedangkan Malaysia sudah mencapai 38 kilo per kapita per tahun,” kata Achmad.

DOC dan pakan jadi kunci utama

Berkaitan dengan hal ini, ketersediaan DOC yang berkualitas sekaligus pakan dan obat-obatan menjadi kunci utama. “Ada 64 perusahaan yang memproduksi DOC. DOC Japfa sendiri sudah ber-SNI, sehingga kualitasnya terjamin,” imbuh A. Harwanto, Executive Vice President, Deputy COO, Opt I Poultry Indonesia, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk.

Baik Japfa maupun Charoen mengklaim bahwa mereka mengutamakan layanan dan kualitas. “Kalau produk DOC kami jelek, pasti pasar kami akan diambil oleh perusahaan Pak Thomas,” ujar Harwanto, yang diamini oleh Thomas Effendy, Presiden Direktur Charoen.

Mereka juga menyampaikan sulitnya mencari jagung saat ini. Padahal, 50% komponen pakan adalah jagung. Harga jagung sekarang Rp 5.000-Rp 5.200 per kilogram. Padahal, jagung impor sampai di gudang pabrik pakan hanya Rp 3.640 per kilogram. Mereka berharap, pemerintah membuka impor jagung pada periode tertentu atau mengenakan bea masuk supaya kesejahteraan petani jagung pun terjaga.

Terkait dengan volatilitas harga ayam dan telur, Deputi III Kepala Staf Kepresidenan, Denni Puspa Purbasari, menyoroti perlunya menjaga keseimbangan supply dan demand. Pemerintah perlu mempublikasi jumlah total impor nenek ayam atau grand parent stocks (GPS), induk ayam atau parent stocks (PS), serta impor soybean meals (SBM) per bulan sebagai proxy produksi ayam ke depan. Ini dilakukan tanpa menyebutkan perusahaan-perusahaannya. “Dengan informasi yang tersedia secara publik ini, pelaku industri dapat menyesuaikan keputusan produksinya sehingga mengurangi potensi oversupply di kemudian hari,” kata Denni.

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close