Update Soal Ranitidin : BPOM Temukan Cemaran NDMA Melebihi Ambang Batas

  • Whatsapp
Konferensi pers di Gedung Badan POM, Johar Baru, Jakarta Pusat, Jumat (11/10), terkait kelanjutan perkembangan penarikan produk Ranidin yang terkotaminasi N-Nitrosodimethylamine (NDMA).

INDOPOLITIKA.COM – Badan Pengawas Obat dan Makanan mengimbau masyarakat tidak resah, soal penjelasan penarikan produk Ranitidin yang terkontaminasi N-Nitrosodimethylamine (NDMA), beberapa waktu lalu.

Hingga saat ini, Badan POM terus melakukan kajian risiko berupa pengambilan dan pengujian beberapa sampel produk ranitin. “Hasil uji sebagian sampel mengandung cemaran NDMA melebihi ambang batas,” cuit Badan POM, di laman twitternya, Sabtu (19/10) malam.

Baca Juga:

Terkait hal ini, Badan POM memerintahkan industri farmasi menghentikan sementara produk ranitidin. Sebagai bentuk kehati-hatian, produk tersebut sebaiknya tidak diresepkan. “Informasi lebih lanjut tentang terapi pengobatan menggunakan ranitidin, hubungi dokter atau apoteker,” cuitnya lagi.

Sebelumnya, saat konferensi pers di Gedung Badan POM, Johar Baru, Jakarta Pusat, Jumat (11/10), Badan POM membagikan kelanjutan perkembangan penarikan produk Ranidin yang terkotaminasi N-Nitrosodimethylamine (NDMA).

Menurut studi global, NDMA memiliki nilai ambang batas 96 ng/hari dan bersifat karsinogenik jika dikonsumsi di atas ambang batas secara terus menerus dalam jangka waktu lama, yakni sekitar 70 hari pemakaian. Berdasarkan temuan tersebut, usai melakukan pengambilan dan pengujian terhadap sampel produk ranitidin, Badan POM menerbitkan penjelasan terkait jenis produk ranitidin yang terdeteksi mengandung cemaran NDMA. Hasilnya, terdapat 6 dari 10 merek obat ranitidin yang dipastikan positif terkontaminasi NDMA melebihi batas.

Sebagai langkah preventif, Kepala Badan POM, Penny K Lukito, menerangkan pihaknya memutuskan untuk menghentikan sementara industri farmasi pemegang izin edar seluruh produk yang terdeteksi cemaran NDMA. Setidaknya terdapat sebanyak 67 merek yang mengandung zat aktif ranitidin.

“9 Oktober kami melihat ada indikasi banyak brand yang mengandung cemaran melebihi ambang batas. Sehingga akhirnya kami mengambil keputusan seluruh industri farmasi menghentikan peredarannya. Ini bentuk tanggung jawab dari industri farmasi juga,” terang Penny.[asa]

More

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *