Utang PLN Capai Rp500 Triliun Disebut Gegara Proyek 35 Ribu MW, Ini Strategi Erick Mengatasinya

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN mencatatkan utang hingga Rp500 triliun. Utang itu pun sudah ada sejak 2019 dan masih belum lunas sampai saat ini.

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan cara yang bisa dilakukan untuk menyehatkan neraca keuangan perusahaan milik negara itu adalah dengan menekan belanja modal.

Berita Lainnya

“PLN itu utangnya Rp500 triliun, tidak ada jalan kalau PLN itu tidak segera disehatkan. Salah satunya kenapa sejak awal kami meminta capex PLN ditekan sampai 50 persen, kalau Bapak-Bapak sama Ibu-Ibu ingat waktu itu seperti itu,” ujar saat rapat kerja bersama Komisi VI DPR RI, Jumat (4/6/2021).

Erick mengatakan PT PLN saat ini hanya bisa menekan belanja modal sebesar 24 persen. Karena itu, Erick meminta PLN melakukan negosiasi ulang utang PLN yang mencapai Rp500 triliun. Ia berharap PLN melakukan negosiasi dengan bunga yang lebih murah.

PLN tercatat mengantongi laba bersih Rp5,9 triliun. Capaian itu naik 38,6 persen dibandingkan laba bersih tahun sebelumnya, yakni Rp4,3 triliun.

Langkah efisiensi dan penghematan yang dilakukan PLN mampu menurunkan beban usaha cukup signifikan senilai Rp14,4 triliun. Semula beban usaha PLN pada 2019 sebesar Rp315,4 triliun, kemudian menjadi Rp301 triliun di 2020.

Membengkaknya utang PLN hingga Rp500 triliun disinyalir sebagai imbas dari pembiayaan investasi selama lima tahun ke belakang. Adapun, salah satu investasi besar yang dilakukan PLN dalam beberapa tahun terakhir adalah proyek listrik 35 ribu megawatt (35 GW).

Tak heran jika kemudian Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) hendak melakukan evaluasi terhadap proyek tersebut.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan, per April 2021 ada sebanyak 54 unit proyek yang belum kontrak atau sebanyak 4,4 persen dari proyek secara keseluruhan.

“Untuk diketahui beberapa kebijakan mengemuka yang masih belum konstruksi itu kita sedang evaluasi apa diteruskan apa tidak. Terlebih kalau di dalamnya pembangkit dari jensi fosil atau batu bara khususnya,” kata Rida dalam konferensi pers, Jumat (4/6/2021).

Menurut Rida, salah satu alasan pemerintah akan mengevaluasi proyek listrik 35 megawatt ini adalah karena masalah pendanaan dari luar negeri. Kementerian ESDM juga akan mengevalusi 43 unit proyek yang sudah tanda tangan kontrak tapi blm konstruksi atau sudah kontrak tapi belum punya dana.

“Karena kita tahu keuangan luar negeri tidak akan lagi biaya. Artinya proyek ini gak bisa terlaksana karena gak ada yang danai, gak bisa equity. Kita tanya satu-satu, pastikan berlanjut atau tidak,” katanya. [rif]

Berita Terkait


INDOPOLITIKA TV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *