Veri Muhlis: Bisa Saja Jokowi 3 Periode Tapi Sebaiknya Jangan

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM Suhu politik nasional tidak pernah dingin. Selalu saja hangat bahkan terkadang jadi panas. Apalagi menyangkut isu pilpres 2024. Hal yang selalu tidak pernah padam adalah isu Jokowi tiga periode. Isu ini terus hangat bahkan kadang mendidih, walau Presiden Jokowi sendiri telah menyatakan tidak tertarik menjadi presiden tiga kali. Hanya saja karena ada lembaga survei yang getol menggelontorkan gagasan pasangan Jokowi – Prabowo, dengan sendirinya isu Jokowi tiga periode kembali memanas.

Adalah Muhammad Qodari dari Lembaga Indobarometer yang mengusung gagasan memajukan pasangan Jokowi – Prabowo di pilpres 2024. Bahkan karena gagasan yang dipandang nyeleneh ini, Indobarometer sampai mengundurkan diri dari keanggotaan di asosiasi lembaga survei PERSEPI. Qodari sendiri mengungkapkan alasan memasangkan Jokowi Prabowo karena keduanya adalah menjadi imajinasi politik masyarakat Indonesia.

Berita Lainnya

“Terus terang saya bukan ngomongin tiga periode, saya bicara mengenai Jokowi dan Prabowo, yang kebetulan pada saat ini dan selama ini, menjadi imajinasi politik orang Indonesia tentang siapa tokoh yang layak memimpin bangsa ini,” ungkapnya dikutip dari YouTube Najwa Shihab.

Qodari mengungkapkan, kondisi politik Indonesia secara garis besar membaik setelah Prabowo bergabung di kabinet Jokowi. Menurutnya secara garis besar, politik Indonesia stabil.

“Ada catatan juga, begitu Prabowo bergabung dengan Jokowi di kabinet, hoaks turun 80 persen,” tambahnya.

Qodari mengungkapkan masyarakat Indonesia telah terbelah dalam dua kali gelaran Pilpres 2014 dan 2019, saat mana Jokowi dan Prabowo bertarung.

Karena pembelahan ini, imajinasi politik masyarakat Indonesia mengenai pemimpin mereka juga terbelah begitu dalam sehingga kalau di Pilpres 2024 Jokowi berpasangan dengan Prabowo maka polarisasi itu akan benar-benar hilang.

Menanggapi hal tersebut, direktur Lembaga Survei Konsep Indonesia, Veri Muhlis menyampaikan, dalam politik keputusan apapun bisa saja dibuat, karena kekuasaan politik ada pada kekuatan politik di Senayan yang berkelindan dengan istana.

Artinya kalau istana dan Senayan mau buat keputusan baru yakni mengubah aturan presiden bisa dipilih tiga kali, tentu bisa saja. Namun menurutnya hal itu sebaiknya jangan dilakukan.

Veri menilai, kalaupun Jokowi misalnya berpasangan dengan Prabowo di pilpres 2024 mendatang, polarisasi tetap akan terjadi karena sesungguhnya di dua pilpres yang lalu, Prabowo lah yang dipandang memanfaatkn suara salah satu kekuatan Islam di Indonesia. Ketika Prabowo masuk ke istana, kelompok itu tetap ada dan terus kritis.

“Yang diam kan kelompok pendukung Prabowo saja dengan Gerindra, kelompok lawan politik Jokowi lain yang kemarin bersama Prabowo tetap saja beroposisi,” ujarnya saat dihubung redaksi, Ahad (6/6).

Veri Muhlis malah menyarankan agar baikJokowi maupun Prabowo untuk tidak menjadi king maker saja di pilpres 2024. Keduanya diminta menjadi Bapak bangsa dan bersikap negarawan.

“Negara ini membutuhkan tokoh-tokoh yang bisa didengar banyak pihak, kalau semua bersaing terus di politik akan kurang elok. Saya rasa, Pak Jokowi sudah jelas ya keputusannya. Beliau tidak mau merusak tatanan yang dibuat sejak reformasi terjadi tahun 1998 lalu,” pungkasnya. [dbm]

Berita Terkait


INDOPOLITIKA TV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *