Viral Keharusan Bergamis di Kecamatan Ciputat : Antara ‘Keinginan’ Camat dan Kelalaian Staf  

  • Whatsapp
Camat Ciputat Andi Dandi Pattabai

INDOPOLITIKA.COM – Viralnya surat edaran keharusan bergamis setiap hari Jumat untuk seluruh pegawai perempuan dilingkup Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan, yang diduga dikeluarkan Camat Ciputat, Andi Pattabai seketika heboh.

Meski buru-buru dibantah, surat edaran itu terlanjur geger. Pun demikian, muncul spekulasi jika Camat Ciputat ini memang “berkeinginan” mewajibkan pegawai perempuan di kantor pelayanan publik ini bergamis. Hal ini tidak terlepas dari merebaknya foto keikutsertaan Andi saat mengikuti kegiatan salah satu ormas islam yang sudah dibubarkan pemerintah. Serta merebaknya kembali unggahan pengurus organisasi ini di media sosial facebook, saat diterima Andi di kantornya diawal dia menjabat sebagai  Camat Ciputat.

Baca Juga:

Dalam foto itu, nampak Andi memakai topi putih dan yang nampak seperti tulisan ‘tauhid’. Ia mengenakan kaos oblong berwarna biru muda sembari kedua jari di arahkan di depan dada. Ia pun tersenyum sumringah saat foto itu diambil.

Saat dikonfirmasi ulang indopolitika.com, Minggu (13/10), Andi Pattabai mengatakana, ada kelalaian stafnya dalam hal ini.  Meski demikian, ia tidak akan menyelidiki stafnya meskipun surat itu telah menimbulkan spekulasi dan beragam kecurigaan publik. “Nggak ada, bang. Karena saya yakin (surat) itu tidak ada maksud tertentu. Murni kelalaian staf,” katanya.

Andi Pattabai saat ikut salah satu kegiatan ormas islam yang ikut muncul usai surat edaran bergamis

Dia mengatakan, sangat mengetahui karakter semua staf yang sekantor dengan dia. Staf-staf itu tak mungkin memiliki niat negatif dengan membuat surat perintah yang kontroversial itu. Saat ditanya alasan keberanian staf membuat surat perintah mengatasnamakan dirinya itu, begini jawaban Andi.

“Gak ada itu. Saya jamin, murni staf saya lalai. Tidak ada maksud apapun. Saya tahu staf saya tidak ada yang seperti itu,” katanya.

Meski begitu, Andi mengaku mengambil pelajaran dari kasus itu. Pengabdian tak boleh diskriminatif. Juga tak bisa memaksakan kehendak. Karena itu, dia berharap kejadian surat kontroversi itu tak akan terulang lagi di kemudian hari. “Insyaallah kasus ini jadiin pengalaman untuk lebih hati-hati dalam mengabdi,” ujarnya.

Penyebab Edaran Bergabis Mencuat

Surat Edaran diduga dari Camat Ciputat, yang beredar di media sosia, soal kewajiban pegawai kecamatan bergamis hitam.

Keluarnya edaran itu berawal dari keluhan yang diterima Andi soal pegawai di pelanayan loket, jika kemeja putih yang dipakai kurang nyaman dilihat warga dan cenderung transparan.

Ia pun berinisiatif merubahnya pakaian putih dengan warna lain yang tidak terlihat mencolok saat memberikan pelayanan ini. Masukan dari bawahanya gamis. “Terus kata staf saya ‘Yang kayak gimana, Pak?’. ‘Yang kayak gamislah’ saya bilang begitu. Jadi pakai busana muslim. Nah ditulisnya gamis,” lanjut Andi.

“Jadi di situ ditulisnya surat perintah untuk perempuan memakai gamis, itu posisi belum saya koreksi. Jadi begitu masuk ke saya sudah saya koreksi semua, bukan surat perintah, nggak boleh ada perintah. Jadi itupun gamis, nggak benar gamis, jangan,” imbuh Andi.[asa]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *