Viral Video Pegawai Honorer DKI Masuk Got, Lurah Akui Salah Persepsi

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Pegawai honorer kategori 2 (K2) di lingkungan DKI Jakarta diperintah masuk ke dalam selokan saat tes perpanjangan kontrak Penyedia Jasa Lainnya Perseorangan (PJLP). Peristiwa tersebut diketahui lewat foto dan video yang saat ini viral di media sosial.

Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) DKI Jakarta membenarkan foto tersebut dan menyatakan peristiwa terjadi pekan lalu.

Baca Juga:

Chaidir mengatakan, seluruh pihak yang terlibat telah diperiksa terkait dugaan kelalaian dalam mekanisme tata cara perpanjangan kontak PJLP atau Penyedia Jasa Lainnya Perseorangan.

“Seluruh Panitia dan dan Lurah selaku kepala unitnya diperiksa Tim Gabungan Inspektorat dan BKD, tingkat provinsi hingga Jakarta Barat,” kata Chaidir saat dikonfirmasi wartawan, Sabtu (14/12/2019).

Nantinya, kata Chaidir, hasil pemeriksaaan diserahkan ke atasan sesuai dengan PP 53 tahun 2010 tentang Hukum Disiplin PNS.

Sementara Lurah Jelambar Agung Triatmojo mengaku dirinya sudah diperiksa oleh Inspektorat Kota Jakarta Barat terkait hal tersebut.

“Kalau pemeriksaan sudah. Semua, mulai dari lurah kemudian panitia, begitu kejadian, begitu viral, tim dari tingkat kota dan provinsi langsung turun. Mulai saya selaku lurah, kemudian juga kepada mereka panitia seleksi,” kata Agung saat dihubungi wartawan.

Karena itu dirinya masih menunggu hal pemeriksaan dari Inspektorat Kota Jakarta Barat. “Nah sekarang tinggal nunggu apa hasil keputusan itu,” ucap dia.

Agung mengaku belum mengetahui sanksi yang diberikan Pemprov DKI terhadap dirinya. Sebab, dirinya masih menunggu hasil pemeriksaan dari Inspektorat.

“Belum, semua ini kami tinggal tunggu saja, tapi yang jelas pasti ada sanksi lah,” katanya pasrah.

Terpisah, Lurah Jelambar, Jakarta Barat, Agung Triatmojo, mengaku bahwa dia telah dinonjobkan oleh Pemprov DKI karena kasus video viral honorer yang tes fisik masuk ke got air kotor. Padahal Agung mengaku telah menginstruksikan jajarannya untuk melakukan tes fisik sesuai dengan prosedur kerja para honorer.

“Awalnya memang para peserta sudah saya arahkan, panitia juga, saya barisin, kemudian saya amanatkan bahwa tes ini tidak jauh daripada tupoksinya PPSU yang akan dilaksanakan nanti, bahkan kalau misalkan ada dahan patah kemudian mereka harus naik pohon, tapi nggak mampu naik, dan harus naik, saya sudah larang itu, dan saya selalu melarang. Kemudian di lapangan terjadi berbeda, ya sudah nasib saya, saya terima,” ujar Agung saat dihubungi detikcom, Sabtu (14/12/2019).

Dia menjelaskan, awal mula dia melakukan tes fisik kepada honorer itu terjadi lantaran dia salah memahami surat edaran Sekretaris Daerah (Sekda) Pemprov DKI Nomor 85/SE/2019 tentang Pengadaan Penyedia Jasa Lainnya Perorangan. Agung mengaku salah persepsi memahami surat edaran itu.

Agung menjelaskan, dalam SE Sekda itu, tertuang aturan baru, yakni pegawai honorer yang melakukan perpanjangan kontrak itu tidak lagi diberi tes tertulis dan fisik, melainkan hanya membawa lamaran serta evaluasi nilai kerja selama bekerja satu tahun terakhir. Namun dia mengaku salah memahami SE itu sehingga terjadi lagi tes fisik yang dilakukan panitia kelurahan Jelambar kepada pegawai honorer itu.

“Iya (salah persepsi), kemudian kemarin sudah dibahas tingkat provinsi dan kota, intinya sudah kita amankan putusan pimpinan, bahwa SE yang lama kemudian mereka (honorer) tidak melalaui tes, tapi evaluasi kerja, yang ikut tes adalah mereka yang baru,” ucapnya. [rif]

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *