Waduh, Indoktrinasi Terorisme Sudah Sampai Di Meja Makan Keluarga

  • Whatsapp
Komisioner Komnas Perempuan Khariroh Ali

INDOPOLITIKA.COM – Komnas Perempuan mencatat keterlibatan perempuan dalam aksi radikalis dan teror makin tinggi beberapa tahun belakangan ini. Seringnya perempuan terlibat dalam aksi-aksi kejahatan teror itu disebabkan berubahnya pola indoktrinasi ajaran teror.

Komisioner Komnas Perempuan Khariroh Ali mengatakan, pola indoktrinasi ajaran teror mengalami pergeseran signifikan. Tidak hanya dilakukan di pertemuan-pertemuan tertutup dan terbatas saja. Tetapi sudah masuk ke ruang keluarga di rumah-rumah pelaku teror.

Muat Lebih

“Jadi, indoktrinasi terorisme sekarang itu tidak hanya dilakukan di halakah-halakah tapi susah dilakukan di ruang makan,” katanya saat menyampaikan materi dalam seminar yang diselenggarakan SETARA Institute Senin siang di Jakarta Pusat (11/11/2019).

Dia lantas menyebut kasus bom Gereja di Surabaya yang melibatkan seluruh anggota keluarga. Dia menyebut, keterlibatan secara aktif kaum perempuan karena beberapa faktor. Diantaranya, pemahaman kaum perempuan pelaku teror bahwa Islam kini berada dibawah ancaman konspirasi global.

“Jadi, banyak dari mereka (perempuan pelaku teror) itu mengaku Islam benar-benar berada dibawah ancaman,” ujarnya.

Selain itu, kaum perempuan juga menganggap sistem demokrasi ternyata tidak membawa kesejahteraan. Lantas, kelompok teroris menawarkan ideologi baru dengan iming-iming semua masalah akan selesai dengan sistem baru.

“Mereka menganggap kalau kekhalifahan itu berdiri maka seluruh masalah-masalah akan selesai. Jadi Khilafah itu dianggap obat mujarab,” katanya.

Sebab lain adalah para perempuan yang terlibat aksi teror itu merasa berdaya berada dalam kelompok radikalis. Mereka diberi peran yang baik dalam menjalankan misinya. Tak jarang, mereka juga menjadi perekrut calon pengantin bom bunuh diri. Bahkan, mereka ikut menyelundupkan pengikut teroris ke negara-negara konflik.

“Kalau selama ini kita menilai mereka hanya pasif menerima doktrin ajaran radikalis, itu ternyata tidak. Banyak yang secara sadar dan aktif untuk melakukan mobilisasi, merekrut bahkan mempengaruhi dan terlibat dalam operasi teror,” katanya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *