Waduh, Perusahaan Israel Ini Bobol Whatsapp Pejabat Pemerintah dan Wartawan?

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – WhasApp mengaku platformnya diserang oleh perusahaan keamanan asal Israel, NSO. WhatsApp menuduh NSO membantu intelijen pemerintah untuk membobol akses sebanyak 1.400 ponsel lintas benua, di mana diplomat dan jurnalis, menjadi sasarannya.

Sebagian besar korban diketahui adalah pejabat tinggi pemerintah. Pejabat militer yang tersebar di setidaknya 20 negara di lima benua dan mayoritas beraliansi dengan AS. Dikutip dari Ruters, Sabtu (02/11/2019), beberapa korban peretasan berada di Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, Bahrain, Meksiko, Pakistan dan India. Beberapa warga negara India bahkan telah mengklaim termasuk di antara target peretasan selama beberapa hari terakhir, termasuk jurnalis, akademisi, pengacara, dan pembela komunitas Dalit India.

Baca Juga:

Raksasa perangkat lunak milik Facebook itu menuduh NSO Group membangun dan menjual platform peretasan yang mengeksploitasi kelemahan di server milik WhatsApp, untuk membantu klien meretas setidaknya 1.400 pengguna sejak 29 April 2019 hingga 10 Mei 2019.

Meskipun belum jelas siapa yang menggunakan perangkat lunak untuk meretas ponsel para pejabat, NSO diduga sempat mengatakan bahwa mereka menjual spyware secara eksklusif kepada pelanggan pemerintah.

“NSO mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pihaknya “tidak dapat mengungkapkan siapa atau mendiskusikan penggunaan spesifik teknologinya,” tulis Reuters lagi.

Sebelumnya, mereka membantah melakukan kesalahan, dengan mengatakan produk-produknya hanya dimaksudkan untuk membantu pemerintah menangkap teroris dan penjahat.

Namun, peneliti cybersecurity meragukan klaim tersebut seraya mengatakan produk NSO digunakan terhadap berbagai target. Termasuk pemrotes di negara-negara di bawah pemerintahan yang otoriter.

Citizen Lab, kelompok pengawas independen yang bekerja dengan WhatsApp untuk mengidentifikasi target peretasan, mengatakan bahwa setidaknya 100 korban adalah tokoh masyarakat sipil, seperti jurnalis dan pembangkang, bukan penjahat.

John Scott-Railton, seorang peneliti senior di Citizen Lab, mengatakan tidak mengherankan bahwa pejabat asing akan menjadi sasaran juga.

“Adalah rahasia umum bahwa banyak teknologi yang dicap untuk penyelidikan penegakan hukum digunakan untuk spionase negara dan politik,” kata Scott-Railton. [rif]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *