INDOPOLITIKA – Wafatnya Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, menimbulkan kekosongan kepemimpinan yang berpotensi mempengaruhi dinamika geopolitik Timur Tengah.

Para analis menilai, situasi ini bisa menjadi momentum bagi Israel untuk memperkuat posisinya di kawasan dan, bagi sebagian kalangan politik Israel, menjadi peluang strategis untuk mendekati gagasan kontroversial “Israel Raya”.

Ayatollah Ali Khamenei selama ini menjadi figur sentral yang mengendalikan kebijakan luar negeri, pertahanan militer, dan jaringan proxy Iran di wilayah Lebanon, Suriah, dan Palestina. Dengan wafatnya Khamenei, Iran menghadapi periode transisi yang rawan ketidakstabilan, di mana koordinasi militer dan politik dapat terganggu.

Hal ini berpotensi memberikan Israel kelebihan taktis sementara dalam perencanaan operasi militer di perbatasan atau wilayah sengketa.

Meski demikian, peluang Israel mewujudkan “Israel Raya” secara signifikan tetap terbatas dan berisiko tinggi. Iran masih memiliki Korps Pengawal Revolusi (IRGC) dan jaringan militer serta proxy yang siap merespons ancaman serius.

Setiap langkah agresif Israel bisa memicu balasan rudal, serangan drone, atau konflik proxy yang memperluas eskalasi regional.

Selain faktor militer, Israel juga harus menghadapi tekanan diplomatik internasional. Komunitas global dan PBB kemungkinan akan menolak perubahan wilayah secara paksa, karena itu dianggap melanggar hukum internasional.

Negara-negara tetangga, termasuk Suriah, Lebanon, dan Yordania, juga dapat terlibat jika ketegangan meningkat, sehingga risiko perang regional tetap tinggi.

Analisis para pakar menekankan bahwa wafatnya Khamenei bisa memberikan Israel keuntungan strategis jangka pendek, tetapi visi jangka panjang “Israel Raya” tetap sulit diwujudkan. Faktor internal Iran, kemampuan balasan militer, dan respons komunitas internasional tetap menjadi penghalang signifikan.

Dengan kata lain, situasi saat ini lebih tepat dilihat sebagai periode peluang taktis, bukan kesempatan untuk mewujudkan perubahan geopolitik besar secara permanen. Israel mungkin memanfaatkan momen ini untuk memperkuat pertahanan, meminimalkan risiko balasan, dan menyiapkan strategi diplomatik, tetapi gagasan “Israel Raya” tetap menghadapi hambatan besar yang kompleks dan multi-dimensi. (Red)

Cek berita dan artikel menarik lainnya di Google News Indopolitika.com