Wakil Ketua Fraksi PKS Usulkan Pemerintah Kokohkan Sistem Inovasi Nasional

  • Whatsapp
Wakil Ketua Fraksi PKS Mulyanto

INDOPOLITIKA.COM – Wakil Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS)  Bidang Industri Pembangunan Mulyanto menyoroti evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2019-2024 yang dilakukan pemerintah baru-baru ini, mengenai masalah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stagnan dan cenderung defisit.

Mulyanto mengatakan pemerintah perlu memperbaiki kondisi “transaksi berjalan” yang terus defisit, dengan cara menggenjot kinerja ekspor nasional.

Bacaan Lainnya

“Yang tak kalah penting dan menjadi hal dasar  pembangunan ekonomi serta fokus jangka panjang yakni perbaikan struktur ekonomi nasional”, ungkap Mulyanto melalui keterangannya yang diterima Indopolitika, Senin (7/10)

Salah satu elemen penting dalam struktur ekonomi nasional adalah industri.  Industri itu menurut Mulyanto, semestinya menjadi  ‘Engine of growth’, mesin pertumbuhan untuk memenuhi kebutuhan barang dan jasa baik domestik maupun orientasi ekspor.

“Kita saat ini sering menerima laporan  terjadinya deindustrialisasi, dimana kontribusi sektor industri terhadap PDB terus anjlok sampai menjadi sekitar 20%”, ujar pria berkacamata ini.

Lebih lanjut Mulyanto menambahkan, kinerja sektor industri pernah mencapai angka melebihi 25%, dimana para ekonom menyebut sebagai deindustrialisasi dini, dimana sektor industri anjlok sebelum mencapai puncaknya.

“Menurut hemat saya, pemerintah perlu fokus pada industri sebagai “prime mover”.  Lalu gerakkan industri kreatif, UMKM dan inovasi teknologi menjadi sumber-sumber pertumbuhan baru”, pungkasnya.

PKS sendiri ungkap Mulyanto, dalam Platformnya mengusulkan agar pemerintah memperkokoh Sistem Inovasi Nasional, karena kejayaan sumber daya alam sudah lewat masanya dan pemerintah mengakui hal itu.

“Kita harus meningkatkan kemampuan SDM dalam inovasi teknologi, yang dilakukan bersamaan dengan hilirisasi industri dengan penuh kesabaran dan pemikiran jangka panjang. Jangan sporadis, tidak responsif, inkonsistensi, sprint jangka pendek serta perlu “Sistem Nasional”, yang kokoh”. tutupnya.[ab]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *