Internasional

Wakil RI di Komisi HAM ASEAN Terus Upayakan Pembahasan Rohingya

Rohingya menanti bantuan di kamp pengungsian Bangladesh. (Foto: AFP)

Jakarta: Dianggap diam menghadapi persoalan Rohingya, Wakil Indonesia untuk Komisi HAM ASEAN (AICHR) Dinna Wisnu, angkat bicara. Ia menyebut, AICHR terus mengangkat agenda Rohingya dan kekerasan di Rakhine secara tertutup di kalangan internal. 

AICHR juga mengupayakan agar pembahasan soal Rakhine dapat terus menjadi perhatian. AICHR Myanmar didesak untuk terus memberi informasi dan perkembangan terkini yang terjadi di sana, bukan hanya secara bilateral kepada Indonesia tetapi ke semua wakil negara di AICHR.

"Berbagi informasi itu sudah format umum di AICHR. Masalahnya, forum itu bersifat informal. Tidak ada catatan rapatnya dan terbatas hanya untuk 10 wakil. Dalam periode saya, sudah tiga kali diagendakan membahas Rakhine dan Rohingya," kata Dinna, kepada Medcom.id, Sabtu 22 September 2018.

"Dan saya berhasil meningkatkan bahasan Rakhine ini sebagai diskusi formal oleh AICHR Myanmar pada bulan Mei 2018 di Jakarta. Keuntungan diskusi formal adalah prosesnya tercatat dan disaksikan seluruh tim AICHR dan Sekretariat," tegas Dinna.

Namun, permasalahannya adalah AICHR hanya lembaga yang menghubungkan 10 pemerintahan di Asia Tenggara (intergovernmental) dengan mandat pemajuan dan perlindungan HAM. AICHR tidak seperti OHCHR di PBB atau lembaga HAM di belahan dunia lain.

AICHR tidak punya mandat untuk memberi sanksi atau hukuman pada yang dianggap melanggar. Tetapi AICHR bisa didorong untuk mendesak negara tersebut memberi informasi dan melakukan perubahan dengan didukung oleh negara-negara anggota yang lain. 

Tidak cukup sampai di situ, Dinna telah mengupayakan agar ada langkah yang lebih cepat, konkret dan terukur dari Myanmar dalam mengimplementasikan rekomendasi Advisory Commission on Myanmar dari mantan Sekjen PBB Kofi Annan, dan agar ASEAN punya mekanisme bersama yang digerakkan AICHR untuk membantu Myanmar, yakni dengan meminta rapat luar biasa AICHR di tahun ini.

"Konsep “membantu Myanmar“ saya tonjolkan karena saya sudah bicara dengan berbagai kalangan yang terlibat dalam kasus di sana sejak 2016, baik di pihak AICHR Myanmar, Advisory Board for the Committee of the Recommendations on Rakhine State, badan-badan PBB dan Marzuki Darusman sebagai ketua tim pencari fakta PBV, masyarakat sipil dan pihak-pihak lain yang relevan," ucap dia lagi.

Baca: PBB: Militer Myanmar Bantai Rohingya Secara Brutal

Dari diskusi-diskusi tersebut, Dinna menyimpulkan bahwa ada negara-negara ASEAN yang pemerintahannya enggan sama sekali menyentuh isu ini. Meskipun AICHR Myanmar sudah membuka diri, mereka memilih untuk menolak membahas isu ini sama sekali. 

"Solidaritas mereka tidak ada. Saya tidak putus asa. Oleh sebab itu, saya mengajak semua perwakilan AICHR untuk membuat pernyataan bersama soal Rakhine kepada para Menteri Luar Negeri menjelang pertemuan mereka di bulan April 2018. Namun hanya Edmund Bon Tai Soon (Wakil Malaysia) yang merespon," lanjut Dinna.

Dengan keadaan seperti ini, Dinna melihat ternyata di dalam negara-negara ASEAN cenderung sama sekali tidak ada tekanan masyarakat sipil atau LSM pada pemerintahannya. Sebut saja di Singapura, Vietnam, Brunei Darussalam, Laos, Kamboja.

"Ini yang belum disadari oleh kawan-kawan LSM di Indonesia dan di kawasan. Dorongan seharusnya difokuskan ke negara-negara tersebut sehingga membantu kami-kami yang sudah aktif dan peduli di AICHR," tambah Dinna.

Ke depannya dalam mengatasi permasalahan Rohingya yang tak kunjung rampung ini, Dinna sudah menyiapkan beberapa langkah guna memastikan AICHR Myanmar dan pemerintah Myanmar menanggapi laporan tim pencari fakta PBB.

Hingga saat ini, terlihat ada kemajuan, seperti bertambahnya jumlah negara yang mendukung inisiatif Indonesia. Misalnya Malaysia, Filipina dan Thailand yang mendukung pembahasan hasil temuan tim pencari fakta PBB.

Singapura, sebagai ketua ASEAN tahun ini juga mengisyaratkan mau mendukung bila Myanmar setuju. Namun, saat ini Myanmar belum mengambil keputusan.

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close