Wali Kota Bandung Tak Sepakat Penggusuran di Tamansari Disebut Langgar HAM

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Wali Kota Bandung Oded M. Danial menegaskan semua proses penggusuran di RW 11, Kelurahan Tamansari sudah sesuai prosedur. Pihaknya pun menyiapkan kompensasi Rp26 juta untuk warga terdampak agar bisa digunakan mengontrak rumah selama satu tahun.

Oded tidak sepakat atas anggapan proses penggusuran tersebut telah melanggar prinsip-prinsip hak asasi manusia. Ia mengaku mengetahui ada penolakan dari warga hingga insiden kericuhan saat proses penggusuran. Namun, untuk mengatasinya, ia sudah mendatangi lokasi dan menemui perwakilan warga.

Baca juga:

“Yang jelas di lapangan saya lihat dari foto-fotonya, bahwa Satpol PP dan polisi sangat luar biasa. Mereka sudah melakukan secara prosedural,” ujar Oded kepada wartawan di Markas Polrestabes Bandung, Jumat, 13 Desember 2019.

Menurutnya, sebelum melakukan penindakan, pemerintah telah melakukan mediasi dengan warga korban gusuran. Bahkan, ia katakan, proses mediasi tersebut telah berjalan selama satu tahun. Ia mengklaim hampir 90 persen warga di sana sudah sepakat untuk dipindahkan.

“Mediasi sudah dilakukan sejak lama. Hanya beberapa orang yang belum sepakat. Saya sebagai Wali Kota Bandung harus memperhatikan yang banyak dong.

Sebagai solusi sementara bagi warga korban gusuran, Oded mengatakan, pemerintah telah menawarkan uang kontrakan selama satu tahun kepada warga. Satu kepala keluarga diberikan uang Rp 26 juta untuk mengontrak selama satu tahun.

“Untuk masyarakat ini saya udah bertemu satu persatu. Saya tanya kehendak mereka. Mereka meminta pangontrakeun. Saya sanggupi,” katanya.

Sebelumnya, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandung menganggap proses penggusuran yang dilakukan Pemkot Bandung telah melanggar prinsip hak asasi manusia. Berdasarkan rilis yang diterima wartawan, mereka pun menilai penggusuran tersebut dilakukan secara tidak prosedural.

Terkait status lahan tersebut, LBH Bandung pun menyatakan, bahwa Pemkot Bandung tidak bisa mengklaim tanah tersebut sebagai aset pemerintah. Lantaran, berdasarkan surat dari Badan Pertanahan Negara, status lahan tersebut masih berstatus lahan bebas negara.

Artinya, baik Pemkot Bandung maupun warga tidak bisa mengklaim lahan tersebut adalah miliknya.

Lebih dari itu, LBH pun merespon aksi represif aparat yang melakukan penggusuran lahan di bawah Jembatan Pasupati tersebut. Mereka menilai, aparat secara sewenang-wenang melakukan kekerasan kepada warga dan kelompok solidaritas korban penggusuran.

Penggusuran paksa yang dilakukan Satpol PP terhadap 33 kepala keluarga di RW 11, Kelurahan Tamansari, Kota Bandung, itu berakhir ricuh. Warga dan kelompok masyarakat yang berempati pada korban penggusuran melakukan perlawanan saat alat berat backhoe menghancurkan sisa-sisa bangunan di kawasan tersebut.

Warga dan aparat sempat saling lempar batu. Dalam insiden tersebut terdapat sejumlah korban luka baik dari warga maupun aparat.

Tak hanya itu, sejumlah warga sempat dikejar-kejar hingga ke Mall Baltos, Bandung. Dari sejumlah video yang beredar di media sosial, nampak aparat berseragam polisi memukuli warga. Belum ada data yang pasti berapa korban luka dari kericuhan ini.

Polisi pun menangkap 25 orang yang berasal dari warga dan kelompok solidaritas. Namun, polisi sudah membebaskan 20 orang tersebut. Polisi masih menahan lima orang yang diduga telah melakukan tindakan menggangu ketertiban umum. [rif]

View this post on Instagram

BANTU SHARE ! Bagaimana jika esok atau lusa, rumah tempatmu dilahirkan bahkan tempat orang tuamu dibesarkan oleh kakek nenekmu dengan penuh cinta kasih dihancurkan, dirobohkan, diluluhlantakkan, bahkan menjadi rata dengan tanah. Seakan tempat itu tidak bernilai apa-apa, seakan rumah itu tidak memiliki kedekatan emosional dan kenangan akan masa kecilmu, kenangan saat dimana emak dan bapakmu membelai rambutmu yang kusut, menyeka ingusmu yang tak kian surut, menghapus air matamu dikala kau terjatuh dan merengek meminta jajan, dan berharap diijinkan bermain air hujan. . Mereka datang dengan barikade patuh, yang dalam kepalanya hanya ada instruksi harus runtuh. Alat berat nangkring dihalaman rumah, emak bapakmu berguling ditanah seraya bersumpah serapah. Namun tak mereka hiraukan, tak juga tuhan hiraukan ketika do'a-do'a dan ayat-ayat dilontarkan menjadi kesumat. . Perlahan, genteng atap rumah yang sering bapakmu betulkan karena bocor tatkala hujan, diluruhkan dengan sekali sabetan setan. Dinding rumahmu yang miring, dirobohkan hingga berkeping-keping. Emakmu menangis sambil memungut sisa dan mengais-ngais. Sedang bapak, bapak duduk tak berdaya dengan tangan dipelipis kepala, seakan tak percaya hasil jerih payahnya telah dibinasa. . Lalu.. Pada akhirnya kenangan hanya akan menjadi kudapan diteras emperan rusunawa dan juga kontrakan. Bahkan, menari-nari dalam mimpimu dikolong jembatan. Sementara.. Dalam dunia nyata.. Kita duduk ngopi sambil diskusi tanpa henti. Atau terjengkang usai onani dalam sebuah diskusi! . #TamansariMasihMelawan #TamansariMelawan #LandOccupationIsTheKey #tiadatuhanselainpenggusuran #TolakRumahDeret

A post shared by PASKIBRAKA REPUBLIK INDONESIA (@infopaskibraka) on

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *