Internasional

Warga AS Telantar di Jakarta akibat Berpenyakit Langka

George Pritting, warga negara Amerika Serikat (AS) yang tak berdaya akibat penyakit ALS (Foto: Marcheilla Ariesta/Medcom.id).

Jakarta: Tubuhnya tergeletak tak berdaya, namun matanya masih bisa menerima kami dengan senyuman. George Pritting, warga Amerika Serikat (AS) ini tak berdaya karena penyakit yang menyerangnya.
 
Pria asal Tennessee ini tidak bisa bergerak bahkan berbicara. Dia berkomunikasi bersama Medcom.id, pada Selasa 4 September 2018 dengan menunjuk balok huruf yang disusun untuk memudahkannya.
 
George menceritakan kepada kami kondisi dirinya saat ini. Dia hanya mengandalkan belas kasihan dari teman-temannya.
 
Keinginan utamanya adalah kembali ke negara asalnya. Namun, biaya menjadi kendala dia.
 
Pria 46 tahun itu sudah berada di Indonesia selama kurang lebih enam tahun dan mulai menderita gejala Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) sejak lima tahun lalu.

 
George Pritting membutuhkan banyak bantuan akibat penyakitnya.Marcheilla Ariesta/Medcom.id

ALS merupakan penyakit mematikan yang menyerang saraf dan hingga kini, belum ada obatnya. Ilmuwan ternama dunia, Stephen Hawking menderita penyakit ini.
 
George menuturkan, dia masih memiliki seorang putra dan ibu di AS. Ayahnya sudah meninggal dunia dan ibunya memiliki penyakit jantung.
 
"Keluarga saya sudah menyerah sejak lama. Saya butuh uang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dan kembali ke negara saya," kata George membuka percakapan kami, saat ditemui di tempat tinggalnya di Jakarta Selatan, Selasa 4 September 2018.
 
Dia mengatakan pihak kedutaan AS di Jakarta tidak membantunya sama sekali. George mengaku pihak kedutaan malah menahan paspornya sebagai jaminan karena pria tersebut meminjam uang dari mereka.
 
"Paspor saya ditahan untuk meminjam uang membayar pengobatan. Semua uang habis, sudah sejak dua tahun lalu," tukasnya.
 
Meski demikian, kata George, pihak kedutaan bersikap seolah-olah mereka peduli padanya. Pasalnya, banyak orang yang menanyakan keadaannya dan pertolongan yang dapat diberikan padanya ke kedutaan.
 
"Pihak kedutaan selalu memiliki alasan untuk saya kembali ke US. Mereka lama. Mereka seperti menunggu saya untuk mati," serunya.
 
Dia menambahkan, keluarganya sudah tidak memiliki uang. Bahkan, mereka menyerah terhadap keadaannya.
 
"Pemerintah saya tidak peduli. Bahkan Kedutaan menyalahkan keluarga saya karena tidak punya uang," imbuh dia.
 

George Pritting berharap bisa kembali pulang ke negaranya.Marcheilla Ariesta/Medcom.id

George telah dipecat dari pekerjaannya. Istrinya juga sudah meninggalkan pria malang ini.
 
Dia mengaku karena tak memiliki pekerjaan, dia tak punya uang. Dengan demikian, dia tidak bisa kembali ke negara asalnya.
 
Menurut George, biaya pemulangannya mencapai ratusan ribu USD karena tidak bisa melalui pemulangan biasa. Dirinya yang sudah tidak berdaya harus ditopang alat bantu medis dan memerlukan ruang khusus.
 
Ketika kami bertanya, apa keinginannya saat ini, George menjawab, "Mati."
 
George dibantu oleh beberapa perawat non medis untuk makan dan melakukan kebutuhan lainnya. Dua perawat menjaganya kala pagi hingga sore dan seorang di malam hari.
 
Setiap hari dia hanya makan pisang, dicampur roti, selai coklat dan kacang serta minum kopi. Makanannya harus berbentuk cair karena pria ini sudah tidak bisa mengunyah.
 
Meski tubuhnya tak berdaya, namun menurut Eva, salah satu orang yang membantunya, George memiliki otak yang cemerlang. Dia bahkan bisa menginstruksikan mereka untuk membenarkan antena televisi dan bermain Facebook.
 
George tinggal sebatang kara di sebuah kos-kosan di bilangan Jakarta Selatan. Untuk biaya kosnya, dia dibantu temannya yang sudah dikenal lama sejak sebelum menderita sakit.
 
Teman-temannya ini membantu George mengumpulkan uang untuk membayar kamar kos, makanan dan obat-obatannya.

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close