Wiranto: TNI dan Polri Datang Bukan untuk Tembak Rakyat Papua

  • Whatsapp
Menteri Wiranto

INDOPOLITIKA – Kedatangan 200 personel Kostrad dan 129 Marinir dan Polri, menurut Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto bukan untuk memperburuk masalah. Aparat datang ingin membuat situasi menjadi kondusif.

“TNI, polisi, datang bukan untuk represif, bukan tembak rakyat,” kata Wiranto dalam konferensi pers di Kementerian Koordinator Polhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Gambir, Jakarta Barat, Jumat (30/8).

Baca Juga:

Menurut dia, personel keamanan di terjunkan ke ‘Bumi Cenderawasih’ lantaran demo-demo yang terus memanas masih bermunculan. Aparat pun perlu dikirim demi menjaga keamanan di lokasi.

Mantan Panglima TNI itu menyebut aparat keamanan sudah diperintahkan hanya membawa peluru karet dalam penugasan ini. Dia pun menyayangkan para prajurit dan polisi malah menjadi korban amukan massa.

“Dia (petugas) punya anak. Untuk apa kita bunuh-bunuhan karena tersinggung dan itu sudah diselesaikan secara hukum,” jelas dia.

Mantan Ketua Umum Partai Hanura itu mengajak warga kembali tenang. Pasalnya, konflik yang berlangsung beberapa hari terakhir sudah mengorbankan pembangunan yang sedang tumbuh di wilayah Papua.

“Pembangunan mahal dari uang rakyat. Bangunnya lama bakarnya cepat, yang rugi rakyat,” ungkap dia.

Dia menambahkan, komunikasi yang lumpuh di Papua bukan keinginan pemerintah. Pasalnya, sebanyak 36 menara base transceiver station (BTS) di ‘Bumi Cenderawasih’ ikut menjadi korban kerusuhan.

Seperti diketahui, situasi Kota Jayapura, Papua, dan sekitarnya sempat memanas, Kamis, 29 Agustus 2019. Aktivitas masyarakat lumpuh total. Sejumlah pertokoan dan perkantoran sejak pukul terpaksa ditutup.

Aksi susulan menolak rasialisme di kawasan Expo, Wamena, Jayapura, berakhir ricuh. Pengunjuk rasa membakar beberapa gedung, pertokoan, dan bangunan.

PT PLN Unit Wilayah Papua dan Papua Barat juga sempat memadamkan listrik di Jayapura. Ada beberapa kabel yang ikut terpanggang saat bangunan dibakar pengunjuk rasa.

Kondisi Jayapura baru berangsur pulih pukul 18.30 WIT. Massa mulai membubarkan diri setelah dipukul mundur aparat gabungan TNI dan Polri dengan gas air mata.

Sehari sebelumnya, kerusuhan berdarah pecah di Deiyai, Papua. Seorang prajurti TNI dan dua warga tewas dalam aksi dalam yang berujung kerusuhan.

Insiden berawal dari demo sekitar 100 orang di halaman Kantor Bupati Deiyai. Namun, sekitar 1.000-an orang dengan membawa senjata tajam dan panah tiba-tiba datang.

Mereka menyerang aparat keamanan. Mobil yang sebelumnya ditumpangi prajurit TNI dirusak, sedangkan senjata api (senpi) di dalam kendaraan ini dirampas.[ab]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *