“Untuk itu dia menawarkan program naturalisasi sungai. Disinilah  ketidakbecusan Anies berikutnya terlihat. Apa sih yang disebut sebagai naturalisasi sungai? tidak pernah jelas. Anies berbicara program menghidupkan ekosistem sungai dan waduk, mengembangkan tanaman di tepi sungai bla bla bla. Tapi semua serba tidak jelas. Dan lebih parah lagi tidak ada eksekusinya secara berkelanjutan,” kritiknya lagi.

Ade juga mengkritisi normalisasi disetop. Naturalisasi tidak pernah dijalankan. Bahkan sungai pun tidak pernah dikeruk selama 2 tahun terakhir. Celakanya lagi, kata Ade, dengan semena-mena, Anies memotong anggaran penanggulangan banjir dari yang semula Rp 850 miliar menjadi Rp 350 miliar.

“Mungkin Anies semula berharap, curah hujan di Jakarta akan biasa-biasa saja, jadi ya banjir-banjir sedikit tapi kemudian sudah surut kembali,” imbuhnya.

Padahal, jelasnya, sejak berbulan-bulan yang lalu kita semua sudah diingatkan bahwa di akhir 2019 dan di awal 2020 akan ada curah hujan luar biasa, bahkan ekstrim. Dan ketika hujan besar itu kini memang terjadi, Jakarta sama sekali tidak siap.

“Nabi Muhammad sudah bilang jangan serahkan sesuatu kepada yang bukan ahlinya, kalau itu dilakukan tunggu saja kehancuran,” katanya lagi.

“Saat ini, kehancuran sudah terlihat nyata di depan mata. Kita cuma bisa berharap, Anies dan pendukungnya masih mau introspeksi diri benahi Jakarta dengan benar. Anies, gunakanlah akal sehat sehat, karena dengan akal sehat Jakarta bisa selamat,” tutupnya.{asa}

Cek berita dan artikel menarik lainnya di Google News Indopolitika.com