INDOPOLITIKA – Di saat dunia sedang menahan napas menghadapi eskalasi konflik antara Iran dan Israel, sebuah video justru memperlihatkan ironi yang sulit diabaikan.
Di dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG), sekelompok orang berjoget, merayakan angka penghasilan, seolah tak ada badai yang sedang mendekat.
Video joget Rp 6 juta sehari itu viral pada pekan ketiga Maret 2026. Di ruang publik digital, ia menjadi tontonan. Namun di balik itu, ia juga menjadi simbol tentang jarak antara realitas global dan kesadaran lokal.
Padahal, dampak perang itu bukan abstrak. Kenaikan harga minyak dunia akibat konflik Timur Tengah sudah mulai menekan ekonomi berbagai negara, termasuk Indonesia.
Pemerintah bahkan mulai menyusun langkah efisiensi anggaran hingga sekitar Rp80 triliun untuk meredam dampak konflik tersebut. Di sisi lain, simulasi pemerintah menunjukkan bahwa lonjakan harga minyak dapat mendorong defisit anggaran melewati batas aman 3% dari PDB .
Artinya sederhana: dunia sedang tidak baik-baik saja. Dalam konteks itu, joget di dapur MBG bukan lagi sekadar ekspresi kegembiraan.
Ia berubah menjadi kontras yang tajam. Ketika negara sedang berhitung untuk menyelamatkan fiskal, ketika harga energi global berpotensi melonjak, dan ketika daya beli masyarakat bisa tergerus, justru muncul selebrasi yang terasa prematur.
Program MBG sendiri sejatinya dirancang sebagai bantalan sosial menghadapi ketidakpastian global. Bahkan dalam berbagai pernyataan, program ini diposisikan sebagai strategi menghadapi krisis ekonomi dunia akibat konflik geopolitik.
Namun di lapangan, narasi itu bisa berubah arah ketika pelaksana melihatnya sebagai ruang keuntungan instan.
Dimana letak problemnya?
Krisis tidak selalu datang dengan suara keras. Ia sering hadir perlahan melalui harga yang naik, anggaran yang menyempit, dan kepercayaan yang mulai retak dan ketika tanda-tanda itu muncul, yang dibutuhkan adalah kesadaran kolektif, bukan euforia sesaat.
Joget itu mungkin hanya beberapa detik. Tapi maknanya jauh lebih panjang. Ia menjadi potret kecil dari persoalan besar: ketika sebagian masih merayakan, sementara realitas sedang bergerak menuju tekanan yang lebih dalam.
Pada umumnya krisis sering kali dimulai dari satu hal sederhana: ketika tanda-tanda sudah ada, tapi tidak cukup dianggap serius. (Red)










Tinggalkan Balasan