INDOPOLITIKA – Pernyataan Zulkieflimansyah tentang kemajuan Iran membuka satu pertanyaan yang tidak nyaman, tetapi penting: mengapa sebuah negara yang terus berada dalam tekanan geopolitik justru mampu melompat dalam penguasaan teknologi, sementara banyak negara lain yang relatif lebih stabil justru tertinggal?
Dalam unggahannya usai berdiskusi dengan Muhammad Zainul Majdi pada sekitar Selasa malam (31 Maret 2026), Zulkieflimansyah menekankan bahwa kemajuan Iran tidak lahir secara instan.
Ia dibangun dari fondasi pendidikan yang kuat, terutama pada ilmu dasar seperti matematika, fisika, kimia, dan biologi. Di sinilah kunci yang sering diabaikan: kemajuan teknologi bukan dimulai dari laboratorium, tetapi dari ruang kelas.
Iran menunjukkan bahwa investasi pada sains dasar bukan sekadar kebijakan pendidikan, melainkan strategi peradaban. Ketika sebuah negara menanamkan disiplin berpikir ilmiah sejak dini, maka ia tidak hanya mencetak tenaga kerja, tetapi membangun kapasitas inovasi jangka panjang. Teknologi kemudian menjadi konsekuensi logis, bukan tujuan instan.
Namun menariknya, kemajuan ini justru terjadi dalam kondisi tekanan geopolitik yang tinggi. Konflik berkepanjangan dengan Barat, sanksi ekonomi, hingga isolasi internasional tidak menghentikan laju pengembangan teknologi Iran.
Dalam banyak kasus, tekanan tersebut justru mendorong kemandirian. Ketika akses dibatasi, pilihan yang tersisa adalah membangun sendiri.
Di titik ini, geopolitik tidak lagi menjadi penghambat, tetapi katalis. Iran tidak memiliki kemewahan untuk bergantung, sehingga dipaksa untuk mandiri. Kemandirian itu kemudian bertumpu pada satu hal yang tidak bisa disanksi: pendidikan.
Bandingkan dengan banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. Stabilitas politik relatif terjaga, akses terhadap teknologi global terbuka, tetapi fondasi pendidikan sains belum menjadi prioritas utama secara konsisten.
Sistem pendidikan masih sering bergerak mengikuti kebutuhan jangka pendek, bukan membangun kekuatan berpikir jangka panjang. Akibatnya, kita menjadi pengguna teknologi, bukan pencipta.
Di sinilah pertanyaan “Kenapa Iran bisa, kita tidak?” menjadi relevan. Bukan karena perbedaan sumber daya, tetapi karena perbedaan orientasi. Iran membangun dari dasar, sementara banyak negara lain mencoba melompat ke atas tanpa memperkuat fondasi.
Lebih jauh, konteks konflik Iran–Israel dan ketegangan dengan Amerika Serikat memperlihatkan bahwa kekuatan teknologi bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal posisi tawar geopolitik.
Negara yang memiliki kapasitas teknologi tinggi tidak mudah ditekan, karena memiliki kemampuan bertahan dan bernegosiasi. Dalam dunia modern, sains bukan lagi sekadar ilmu, tetapi instrumen kekuasaan.
Pernyataan Zulkieflimansyah pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang Iran, tetapi menjadi refleksi bagi arah pembangunan kita sendiri. Apakah kita ingin terus menjadi bagian dari rantai konsumsi global, atau mulai membangun kemandirian berbasis pengetahuan?
Jawabannya mungkin tidak sederhana. Tetapi satu hal jelas: tanpa fondasi pendidikan yang kuat, terutama pada sains dasar, sulit bagi negara mana pun untuk berdiri sejajar dalam percaturan global, baik dalam teknologi maupun dalam geopolitik.
Dan di tengah dunia yang semakin keras, pilihan itu bukan lagi soal ingin atau tidak, tetapi soal mampu atau tertinggal. (Red)












Tinggalkan Balasan