INDOPOLITIKA – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu inisiatif sosial-ekonomi terbesar yang saat ini dijalankan di Indonesia.

Dengan alokasi anggaran tahun 2025 sebesar Rp71 triliun dan proyeksi mencapai Rp335 triliun pada 2026, program ini menjadi perhatian luas publik.

MBG bukan sekadar program pembagian makanan

Skemanya mencakup sistem pengadaan, pengelolaan rantai pasok, manajemen logistik, hingga menyangkut masa depan anak-anak serta kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Skala dan kompleksitasnya menjadikan program ini layaknya sebuah institusi besar dengan dampak yang sangat luas.

Namun demikian, besarnya anggaran dan ruang lingkup program ini juga memunculkan sorotan. Di tengah misi sosial yang diusung, muncul kekhawatiran mengenai potensi keuntungan besar yang bisa diraih pihak-pihak tertentu.

Sejumlah warganet pun melontarkan kritik di media sosial. Ada yang mengklaim mengenal pelaku usaha MBG yang mampu membeli dua rumah senilai Rp4,2 miliar dari bisnis tersebut.

Warganet lain menyebut keuntungan minimal bisa mencapai Rp160 juta per bulan. Bahkan, ada pula yang menyindir bahwa pengelola dapur MBG disebut mampu berlibur ke Jepang bersama keluarga.

Beragam komentar tersebut mencerminkan perdebatan publik mengenai transparansi, tata kelola, dan potensi konflik kepentingan dalam pelaksanaan program berskala besar ini.(Hny)

Cek berita dan artikel menarik lainnya di Google News Indopolitika.com