Sebuah kampung bernama Pasir Gintung, Tangerang, pada 30 Desember 1942, lahir seorang anak yang kelak mengubah lanskap pendidikan Islam di Banten. Ia adalah KH. Ahmad Rifa’i Arief, pendiri Ponpes Daar el-Qolam dan Ponpes La-Tansa di Banten.
Hidupnya tidak ditandai oleh gemerlap kekuasaan atau sorotan politik nasional. Ia memilih jalan sunyi: membangun manusia. Dan dari pilihan sunyi itulah lahir sebuah institusi yang hari ini dikenal luas sebagai salah satu pesantren modern paling berpengaruh di Banten.
Akar Tradisi yang Kuat
Rifa’i tumbuh dalam keluarga religius. Ayahnya, H. Qasad Mansyur, dikenal sebagai tokoh agama di lingkungan Pasir Gintung. Sejak kecil, ia dibiasakan dengan disiplin ibadah dan kecintaan pada ilmu. Lingkungan kampung yang sederhana membentuk kepekaan sosialnya, sementara tradisi keagamaan keluarga membangun fondasi spiritual yang kokoh.
Bakat kepemimpinannya mulai terlihat ketika ia menempuh pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor. Di Gontor, Rifa’i bukan hanya belajar ilmu agama dan bahasa, tetapi juga menyerap sistem pendidikan yang terorganisasi, disiplin, dan berorientasi pada pembentukan karakter.
Gontor mengajarkannya bahwa pesantren dapat menjadi institusi modern tanpa kehilangan ruh keislaman. Bahwa santri bukan hanya penghafal kitab, tetapi calon pemimpin umat.
Nilai-nilai itulah yang kelak ia bawa pulang ke Tangerang
1968: Lahirnya Daar el-Qolam
Tanggal 20 Januari 1968 menjadi titik balik. Bersama ayahnya dan dukungan masyarakat sekitar, KH. Rifa’i Arief mendirikan pesantren yang diberi nama Daar el-Qolam—“rumah pena”. Nama itu bukan sekadar simbol. Ia adalah cita-cita: menjadikan pena, ilmu, dan pendidikan sebagai jalan perubahan.
Awalnya, pesantren berdiri dalam kondisi serba terbatas. Santri yang datang hanya belasan. Bangunan sederhana. Fasilitas minim. Namun yang melimpah adalah tekad.
KH. Rifa’i Arief merancang sistem yang jelas sejak awal:
• Asrama penuh untuk pembinaan karakter 24 jam
• Kurikulum terpadu antara agama dan ilmu umum
• Bahasa Arab dan Inggris sebagai bahasa resmi keseharian
• Organisasi santri sebagai laboratorium kepemimpinan
Ia percaya bahwa pendidikan bukan hanya transfer pengetahuan, melainkan pembentukan kepribadian.
Disiplin sebagai Fondasi
Salah satu ciri kuat Daar el-Qolam sejak awal adalah disiplin. Jadwal harian santri diatur ketat: bangun sebelum subuh, belajar, berorganisasi, berolahraga, hingga kembali ke kamar dalam ritme yang teratur.
Bagi KH. Rifa’i Arief, disiplin bukan sekadar aturan, melainkan sarana melatih tanggung jawab. Ia ingin para santri memahami bahwa kebebasan hanya bisa diraih melalui pengendalian diri.
Di lapangan upacara, dalam percakapan sehari-hari, bahkan dalam cara berpakaian, nilai kedisiplinan itu tertanam.
Modernisasi Tanpa Sekularisasi
Tantangan besar pendidikan Islam pada era 1970–1980-an adalah bagaimana merespons modernitas tanpa tercerabut dari akar tradisi. KH. Rifa’i Arief menjawabnya dengan integrasi.
Kitab kuning tetap diajarkan. Tafsir, hadis, fiqh menjadi fondasi. Namun matematika, sains, dan ilmu sosial juga masuk dalam kurikulum. Bahasa Arab memperkuat literasi agama; bahasa Inggris membuka jendela dunia.
Ia tidak melihat kontradiksi antara tradisi dan modernitas. Baginya, keduanya bisa berjalan beriringan jika nilai dasar tetap terjaga.
Kepemimpinan dan Kaderisasi
Daar el-Qolam tidak hanya mendidik santri untuk menjadi ustaz. Ia membentuk kader pemimpin.
Organisasi santri menjadi sarana latihan manajemen, komunikasi, dan pengambilan keputusan. Setiap santri diberi ruang untuk belajar memimpin—meski dalam skala kecil.
KH. Rifa’i Arief meyakini bahwa umat membutuhkan generasi yang mampu berdiri di berbagai sektor: pendidikan, ekonomi, birokrasi, bahkan diplomasi. Karena itu, visi pesantrennya melampaui batas tembok asrama.
Ekspansi dan Pengaruh
Dalam tiga dekade kepemimpinannya (1968–1997), Daar el-Qolam berkembang pesat. Santri datang dari berbagai daerah, bahkan dari luar negeri seperti Malaysia dan Thailand.
KH. Rifa’i Arief juga terlibat dalam pengembangan lembaga pendidikan lain, memperluas jaringan dakwah dan pendidikan Islam. Ia tidak sekadar membangun satu institusi, tetapi menanam model.
Pengaruhnya terasa bukan hanya dalam jumlah santri, tetapi dalam kultur alumni yang tersebar luas. Banyak di antara mereka yang menjadi pendidik, profesional, pemimpin organisasi, dan penggerak masyarakat.
Pribadi yang Sederhana
Di balik kepemimpinan tegasnya, KH. Rifa’i Arief dikenal sederhana. Ia hidup tidak jauh berbeda dari para santri. Kedekatannya dengan guru dan murid menciptakan hubungan yang bukan sekadar struktural, tetapi emosional.
Ia memahami bahwa pendidikan efektif lahir dari keteladanan. Apa yang ia ajarkan, ia praktikkan.
Keikhlasan menjadi kata kunci. Ia sering menekankan bahwa keberhasilan lembaga bukan semata hasil strategi, tetapi buah dari niat yang lurus.
Wafat yang Menggetarkan
Pada 16 Juni 1997, KH. Rifa’i Arief wafat akibat serangan jantung dalam usia 54 tahun. Kepergiannya mengejutkan banyak pihak. Namun sistem yang ia bangun tidak runtuh. Daar el-Qolam tetap berjalan, bahkan terus berkembang.
Itulah bukti bahwa ia tidak membangun pesantren bergantung pada satu figur. Ia membangun sistem dan kultur.
Warisan yang Terus Hidup
Hari ini, Daar el-Qolam berdiri megah dengan ribuan santri dan fasilitas modern. Namun esensinya tetap sama: disiplin, bahasa, kepemimpinan, dan keikhlasan.
Setiap santri yang berbicara dalam bahasa Arab di asrama, setiap organisasi yang berjalan tertib, setiap alumni yang mengabdi di tengah masyarakat—semuanya adalah kelanjutan dari visi KH. Rifa’i Arief.
Ia mungkin telah tiada, tetapi gagasannya terus bekerja.
Refleksi: Pendidikan sebagai Jalan Perubahan
Dalam konteks Indonesia yang terus berubah, figur seperti KH. Rifa’i Arief menunjukkan bahwa transformasi sosial bisa dimulai dari lembaga pendidikan. Ia tidak berteriak di panggung politik. Ia tidak membangun narasi besar di media. Ia membangun manusia—pelan, konsisten, dan sistematis.
Pesantren yang ia dirikan adalah bukti bahwa pendidikan Islam mampu beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan identitas.
Daar el-Qolam bukan sekadar lembaga. Ia adalah cermin dari keyakinan seorang kiai bahwa pena lebih tajam dari kekuasaan, dan pendidikan lebih tahan lama daripada popularitas.
Dari Gintung, obor itu dinyalakan. Dan hingga hari ini, cahayanya masih menyala.
(Diolah dari berbagai sumber)












Tinggalkan Balasan