Fenomena Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan menghadirkan dua wajah sekaligus. Di satu sisi, ia dipandang sebagai idola finansial baru yang komunikatif dan dekat dengan generasi muda, gaya lah pokoknya. Tapi di sisi lain, muncul kritik bahwa di balik gaya percaya diri dan narasi optimisme, kinerja fiskal dan pengawasan internal belum sepenuhnya tertata rapi.
Sejak awal menjabat, Purbaya dikenal dengan gaya komunikasi lugas dan blak-blakan. Ia kerap menyampaikan pesan ekonomi dengan bahasa sederhana seperti “jangan FOMO dalam investasi” atau “belanja sesuai kantong, jangan ngutang.” Pendekatan ini membuat isu fiskal yang biasanya teknokratis menjadi lebih mudah dipahami publik. Popularitasnya pun meningkat pesat di media sosial, membentuk citra sebagai menteri yang modern dan relatable.
Namun, optimisme yang ia tampilkan juga menuai perdebatan. Target pertumbuhan ekonomi yang tinggi dinilai sebagian ekonom terlalu ambisius di tengah kondisi global yang belum stabil. Jika penerimaan negara tidak sesuai proyeksi, defisit berpotensi melebar dan ruang fiskal bisa menyempit. Kritik ini bukan semata menolak pertumbuhan, tetapi mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menjaga stabilitas jangka panjang.
Sorotan tajam muncul dalam kasus impor 105.000 mobil oleh Agrinas Pangan. Transaksi besar tersebut dilakukan cepat, namun publik mempertanyakan kejelasan mekanisme pendanaan, skema pertanggungjawaban. Belum lagi serta risiko layanan purna jual dan distribusinya. Kasus ini memunculkan pertanyaan mendasar: apakah Kementerian Keuangan telah melakukan pengawasan optimal, atau keputusan lebih didorong oleh tekanan dan kepentingan tertentu?
Selain itu, pengelolaan subsidi, insentif fiskal, dan belanja strategis dinilai belum sepenuhnya konsisten. Reformasi birokrasi internal Kementerian Keuangan dianggap berjalan lamban, sementara koordinasi kebijakan di lapangan masih memunculkan kebingungan. Aparat pajak dan bea cukai kena OTT, padahal orang berharap banyak Purbaya yang koboy itu bisa atasi. Di situlah muncul kesan “keteteran”: citra terbuka dan modern dalam konferensi pers belum sepenuhnya diimbangi pembenahan struktural yang nyata.
Dalam tata kelola fiskal, yang diuji bukan sekadar narasi, tetapi efektivitas sistem. Efisiensi belanja, disiplin defisit, transparansi APBN, serta pengawasan BUMN adalah ukuran konkret yang dinilai publik. Jika gaya komunikasi lebih menonjol daripada hasil kebijakan, maka kritik akan terus menguat. Ada pernyataan menarik, ternyata siapapun menkeu-nya, tetap saja Indonesia ngutang.
Pada akhirnya, perdebatan tentang Purbaya Yudhi Sadewa mencerminkan dinamika antara optimisme dan kewaspadaan. Publik tidak hanya menginginkan Menteri Keuangan yang percaya diri dan modern, tetapi juga lembaga yang tertata, akuntabel, dan benar-benar pro-negara. Keseimbangan antara kecepatan keputusan, transparansi, dan kehati-hatian fiskal menjadi kunci agar citra tidak sekadar menjadi simbol, melainkan terwujud dalam kinerja nyata.












Tinggalkan Balasan