Satu tahun adalah fase madu politik. Biasanya publik masih memberi ruang, memberi toleransi, bahkan memberi pembenaran. Tapi fase tahun pertama pemerintahan Prabowo yang justru terasa adalah gelombang kritik yang tidak surut. Bukan karena rakyat membenci. Justru karena rakyat berharap terlalu besar.
Prabowo datang dengan retorika kuat: kedaulatan pangan, kemandirian ekonomi, produksi dalam negeri, keberanian geopolitik, dan negara yang kuat. Narasi itu membakar imajinasi publik. Tetapi ketika api retorika menyala begitu tinggi, bayangan kekecewaan juga membesar ketika realitas tak seterang janji.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG), misalnya, adalah ide besar dengan pesan moral yang kuat. Siapa yang menolak anak-anak diberi makan bergizi, gratis pula. Namun publik tidak hanya melihat niat. Mereka menghitung angka. Ketika disebut anggaran per porsi Rp15.000, tetapi yang terasa di lapangan disebut-sebut tidak segitu, pertanyaan muncul bukan soal kemurahan hati negara—melainkan ke mana selisihnya pergi. Kritik semakin tajam ketika pelaksan program banyak melibatkan berbagai lembaga negara di luar tugas pokoknya. Rakyat tidak alergi pada program besar tapi pada kebocoran, pemborosan dan ketidakadilan.
Di sisi lain, janji lapangan kerja adalah janji yang paling sensitif. Generasi muda tidak hidup dari statistik pertumbuhan, tetapi dari slip gaji dan peluang nyata. Ketika kecemasan kerja masih tinggi, maka klaim stabilitas terasa jauh dari dapur rumah tangga.
Kebijakan impor kendaraan dari India juga menjadi simbol ironi. Di satu panggung ditekankan pentingnya produksi dalam negeri dan kemandirian industri nasional. Di panggung lain, malah impor dan ngeyel. Dikritik tetap tapi ngotot. Publik membaca ini sebagai inkonsistensi pesan. Mungkin ada alasan strategis, mungkin ada kalkulasi jangka pendek. Tetapi komunikasi yang tidak tuntas melahirkan kesan yang tidak menguntungkan.
Politik luar negeri Indonesia juga dikritisi karena menjadi bagian dari semacam “Board of Peace”, tidak ada struktur formal internasionalnya itu. Dalam diplomasi global, ada perbedaan antara ikut forum, mendorong inisiatif, dan menjadi mediator resmi yang diakui semua pihak. Jika klaim terdengar lebih besar daripada struktur formalnya, publik akan bertanya: ini substansi atau sekadar panggung. Posisi yang selama ini bebas aktif, non blok dan disiplin prosedur jadi terkoyak.
Di sinilah akar banyak kritik itu berada. Bukan kebencian. Bukan delegitimasi. Melainkan kegelisahan terhadap jarak antara narasi dan realitas. Kritik hari ini adalah alarm, bukan vonis. Pertanyaannya sederhana namun menentukan: Apakah alarm itu akan dijadikan koreksi, atau dianggap gangguan? Banyaknya kritik hari ini bukan tanda runtuhnya legitimasi. Justru tanda bahwa rakyat masih percaya perubahan itu mungkin. Tinggal satu pertanyaan yang akan menentukan arah bangsa: Apakah kritik akan dijawab dengan koreksi, atau dilawan dengan defensif?
Mengapa kritik terlihat seperti begitu banyak? Karena ekspektasi terlalu tinggi untuk diturunkan menjadi sekadar kelanjutan. Karena publik merindukan gebrakan, bukan hanya pengelolaan. Karena rakyat ingin melihat keberanian memotong rantai oligarki, bukan sekadar merapikannya dan karena dalam demokrasi, kritik adalah cara rakyat menjaga agar kekuasaan tidak nyaman terlalu lama. Namun kritik bukan vonis. Ia adalah peringatan dini.
Karena itu setahun pemerintahan Prabowo berjalan pasti masih dimaklum, sebab itu adalah fase konsolidasi. Tahun kedua seharusnya menjadi fase pembuktian. Jika Prabowo ingin meninggalkan jejak sejarah, maka ia harus melampaui stabilitas dan masuk ke wilayah reformasi nyata: transparansi anggaran yang bisa diaudit publik secara terbuka, industrialisasi yang konsisten dengan narasi kemandirian, penciptaan kerja yang berbasis produktivitas, serta keberanian menindak siapa pun—tanpa pandang kekuatan politiknya.
Sejarah tidak mencatat siapa yang paling sering berpidato tentang kedaulatan tapi pada yang benar-benar membuat negara lebih berdaulat.
Karena sejarah tidak mudah terpesona oleh gema pidato. Ia lebih menghargai pemimpin, yang mungkin tak banyak bicara, namun diam-diam menuntaskan pekerjaan dan meninggalkan hasil yang bisa dirasakan rakyat. Sejarah bukan panggung bagi mereka yang gemar berorasi tanpa henti. Ia hanya memberi tempat terhormat bagi pemimpin yang benar-benar bekerja dan membuktikan janji dengan tindakan.
Tahun kedua dan seterusnya akan akan menjadi jawabannya.












Tinggalkan Balasan