INDOPOLTIKA – Bencana banjir dan tanah longsor yang menimpa sejumlah wilayah di lereng Gunung Slamet, termasuk Kabupaten Pemalang, Tegal, dan Purbalingga, disebabkan oleh kombinasi faktor alam dan kondisi lingkungan.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menegaskan bahwa curah hujan ekstrem, karakter tanah, dan kemiringan lereng menjadi faktor utama terjadinya bencana tersebut.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Jawa Tengah, Widi Hartanto, menjelaskan bahwa analisis lapangan mencatat curah hujan ekstrem dengan durasi panjang terjadi pada 23–24 Januari 2026.

Intensitas hujan di wilayah hulu Gunung Slamet mencapai 100–150 milimeter per hari, jauh di atas ambang normal.

“Curah hujan normal harian idealnya maksimal 50 milimeter. Ketika debit air melonjak drastis, banjir sulit dihindari,” ujar Widi, Jumat (30/1/2026).

Wilayah Kecamatan Pulosari dan Moga di Kabupaten Pemalang berada di Sub DAS Penakir, bagian dari hulu Sub DAS Gintung.

Kawasan ini memiliki kemiringan lereng yang cukup curam hingga sangat curam, mencapai sekitar 64 persen, sehingga mempercepat aliran permukaan dan meningkatkan daya erosi air.(Hny)

Cek berita dan artikel menarik lainnya di Google News Indopolitika.com