Di balik kesunyian geografisnya, Gandasoli menyimpan lapisan sejarah yang jauh lebih tua dan lebih dalam daripada yang tampak di permukaan. Kampung ini bukan sekadar permukiman biasa di Sukabumi, melainkan salah satu simpul penting dalam sejarah diaspora priyayi Jawa yang tersingkir dari pusat kekuasaan Mataram pada abad ke-17. Melalui silsilah, makam keramat, dan ingatan kolektif masyarakat, Gandasoli tampil sebagai ruang sejarah tempat identitas aristokratik bertahan dan bertransformasi.

Runtuhnya Panjalu dan Awal Diaspora

Sejarah Gandasoli berkaitan erat dengan saur sepuh atau tutur tinular alias cerita mengenai Raden Arya Salingsingan. Tokoh itu tidak lain adalah Raden Arya Sacanata, seorang priyayi tinggi yang diangkat langsung oleh Sultan Agung sebagai Bupati Panjalu dengan gelar Pangeran Arya Sacanata. Pengangkatan ini menempatkan Panjalu sebagai bagian dari jaringan kekuasaan Mataram di wilayah Galuh dan Priangan.

Namun perubahan rezim membawa konsekuensi besar. Pada masa Sunan Amangkurat I, Arya Sacanata dicopot, Kabupaten Panjalu dihapuskan, dan wilayah Priangan dibagi ke dalam dua belas ajeg. Kebijakan ini tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga memutus kesinambungan elite lama yang dibangun pada era Sultan Agung.

Arya Salingsingan: Antara Politik dan Jalan Sunyi

Penolakan Arya Sacanata terhadap pencopotannya memuncak dalam peristiwa simbolik ketika ia menyusup ke peraduan raja Mataram dan memotong sebelah kumis Sinuhun. Sejak saat itu, ia menjadi buronan istana, namun tak pernah tertangkap. Dari episode inilah lahir julukan Pangeran Arya Salingsingan, istilah Sunda yang berarti berpapasan tetapi tak dikenali.

Julukan ini mencerminkan posisi historisnya: tokoh nyata yang hidup di luar legitimasi negara, namun tetap dikenali dan dihormati masyarakat lokal. Dalam fase selanjutnya, setelah menjadi buronan Mataram, Pangeran Arya Sacanata ini kemudian meninggalkan kehidupan duniawi dan memilih jalan spiritual. Ia mendirikan padepokan di Gandakerta, kemudian berkelana ke berbagai wilayah di Priangan hingga akhirnya menetap dan wafat serta dimakamkan di Nombo, Dayeuhluhur.

Dua Belas Putera-Puteri dan Strategi Penyebaran

Pasca runtuhnya Panjalu, kesinambungan keluarga Arya Sacanata tidak dijaga melalui pendirian pusat kekuasaan baru, melainkan melalui penyebaran keturunan. Dalam catatan silsilah, disebutkan dua belas di antara putera-puteri Pangeran Arya Sacanata, yaitu:
1. Raden Jiwakrama (Cianjur),
2. Raden Ngabehi Suramanggala,
3. Raden Wiralaksana (Tengger, Panjalu),
4. Raden Jayawicitra (Pamekaran, Panjalu),
5. Raden Dalem Singalaksana (Cianjur),
6. Raden Dalem Jiwanagara (Bogor),
7. Raden Arya Wiradipa (Maparah, Panjalu),
8. Nyi Raden Lenggang,
9. Nyi Raden Tilar Kancana,
10. Nyi Raden Sariwulan (Gandasoli, Sukabumi),
11. Raden Yudaperdawa (Gandasoli, Sukabumi),
12. Raden Ngabehi Dipanata.

Daftar ini menunjukkan pola yang jelas bahwa keturunan Arya Sacanata tersebar di berbagai wilayah strategis Jawa Barat, dari Panjalu, Cianjur, Sukabumi hingga Bogor. Penyebaran ini mencerminkan strategi bertahan aristokrasi—menghindari konsentrasi kekuasaan, namun menjaga status sosial, gelar, dan legitimasi kultural.

Gandasoli sebagai Simpul Keturunan

Penyebutan Nyi Raden Sariwulan dan Raden Yudaperdawa secara eksplisit berlokasi di Gandasoli, Sukabumi, menempatkan kampung ini pada posisi istimewa. Gandasoli bukan sekadar tempat singgah, melainkan basis keturunan generasi inti.

Silsilah yang tertulis sering merujuk secara umum ke “Gandasoli, Sukabumi”, sementara nama Desa atau kampung Gandasoli di Sukabumi ada banyak. Ada Gandasoli di Cikakak, ada Gandasoli di Cikidang, ada Gandasoli di Jampang Kulon, dan Gandasoli di Kecamatan Cireunghas. Pertanyaannya Gandasoli mana yang memiliki kaitan kuat dengan narasi Aria Dalem Salingsingan.

Walau ada kemungkinan terkait dengan Gandasoli Cikidang namun analisa yang mengarah ke Gandasoli Desa Cipurut di Kecamatan Cireunghas tampak lebih masuk akal. Setidaknya dengan beberapa Alasan berikut:

Pertama, Di wilayah Cireunghas, terdapat area makam keramat yang diyakini masyarakat sebagai makam tokoh-tokoh penyebar agama dan bangsawan masa lalu. Penamaan stasiun dan desa di sana didasarkan pada nama wilayah kuno yang sudah ada jauh sebelum kereta api masuk, yang sering kali merupakan wilayah kekuasaan atau pemukiman keturunan menak.

Kedua, akses jalur Cianjur. Dalam daftar nama dua belas putera puteri Raden Arya Sacanata atau Aria Dalem Salingsingan, beberapa tampak menetap di Cianjur (seperti Raden Jiwakrama dan Raden Dalem Singalaksana). Secara geografis, Cireunghas adalah wilayah Sukabumi yang berbatasan langsung dengan Cianjur. Mobilitas keturunan bangsawan antara Cianjur dan Sukabumi Timur (Cireunghas) secara historis jauh lebih memungkinkan dibandingkan ke Cikidang (Sukabumi Barat).

Ketiga, adanya tradisi tutur di kalangan rakyat di sekitar Stasiun Gandasoli memiliki tradisi lisan mengenai sosok Eyang Dalem yang membabat alas wilayah tersebut. Hal ini sejalan dengan profil Raden Yudaperdawa yang disebut sebagai salah satu putra yang menetap di Gandasoli.

Dalam tradisi priyayi Jawa, jalur perempuan sering menjadi penjaga rumah, tanah, dan kesinambungan identitas. Hal ini menjelaskan mengapa Gandasoli kemudian dikenal memiliki sejumlah makam keramat bergelar Raden, Agah, Dalem, Arya, Raden Sariwulan, Raden Saribanon, yang dihormati lintas generasi.

Makam Keramat sebagai Arsip Sejarah

Makam keramat di Gandasoli tidak dapat dipahami semata sebagai objek spiritual, melainkan sebagai arsip sosial non-tertulis. Di tengah minimnya catatan resmi, makam, gelar, dan cerita turun-temurun berfungsi sebagai penanda sejarah yang hidup. Konsistensi gelar priyayi dan kesinambungan narasi menunjukkan bahwa Gandasoli merupakan ruang memori aristokratik yang bertahan di luar pusat kekuasaan negara.

Gandasoli dalam Era Kolonial

Keberadaan Stasiun Gandasoli pada jalur kereta api Sukabumi–Cianjur sejak masa Hindia Belanda yang aktif sejak tahun 1883 semakin menegaskan pentingnya wilayah ini. Infrastruktur kolonial biasanya dibangun pada titik-titik yang telah memiliki signifikansi sosial dan ekonomi sebelumnya, menandakan bahwa Gandasoli telah lama dikenal sebagai lokasi strategis.

Penutup

Gandasoli adalah contoh nyata bagaimana sejarah besar tidak selalu tertulis dalam arsip negara, tetapi hidup dalam silsilah, makam, dan ingatan kolektif masyarakat. Dari Pangeran Arya Sacanata alias Arya Salingsingan yang keturunannya menetap di Gandasoli, kampung ini menjadi saksi peralihan kekuasaan, strategi bertahan priyayi, dan pertemuan budaya Jawa–Sunda.

Dengan demikian, Gandasoli layak dikenang dan diposisikan sebagai Kampung Bersejarah, bukan karena mitos semata, tetapi karena jejak nyata sejarah yang masih dapat dibaca hingga hari ini.

*Dari berbagai sumber

Cek berita dan artikel menarik lainnya di Google News Indopolitika.com