Sebuah mobil berada di tengah puing bangunan di Palu, Sulteng, 3 Oktober 2018. (Foto: AFP/ADEK BERRY)

Jenewa: Sebanyak 1.234 orang meninggal dunia dalam musibah gempa bumi dan gelombang tsunami di Sulawesi Tengah, yang jumlahnya diperkirakan dapat bertambah. Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut Indonesia sangat membutuhkan bantuan darurat, baik untuk korban selamat maupun tim penanganan bencana.

Agensi Urusan Kemanusiaan PBB menyebut hampir 200 ribu orang di Palu, Donggala dan sekitarnya membutuhkan bantuan darurat. Dari jumlah tersebut, puluhan ribu di antaranya adalah anak-anak.

Gempa berkekuatan 7,4 Skala Richter di Sulteng pada Jumat 28 September itu, yang kemudian memicu tsunami, juga telah menghancurkan atau merusak sekitar 66 ribu rumah.

Korban selamat membutuhkan makanan dan minuman, di tengah persediaan air bersih yang semakin minim. Sejumlah rumah sakit juga dilaporkan kerepotan menangani banyaknya korban.

Baca: Citra Satelit Perlihatkan Dampak Gempa Palu

"Masih banyak area-area besar yang belum dapat dicapai. Tapi tim gabungan sedang berusaha semaksimal mungkin," ucap Jen Laerke dari Agensi Urusan Kemanusiaan PBB, kepada awak media di Jenewa, seperti dikutip dari AFP, Rabu 3 Oktober 2018.

Sementara itu, Pusat Koordinasi Bantuan Kemanusiaan ASEAN menyebut Indonesia membutuhkan lebih banyak kantong jenazah karena dikhawatirkan jenazah-jenazah yang membusuk dapat menjadi sumber penyebaran penyakit menular.

Indonesia telah membuka diri terhadap bantuan dari negara-negara sahabat dan organisasi internasional. 

Tadi malam, Pusat Dana Respons Darurat yang merupakan bagian dari PBB telah merilis bantuan senilai USD15 juta atau setara Rp226 miliar.

 

Cek berita dan artikel menarik lainnya di Google News Indopolitika.com